Thursday, November 05, 2009

Negara Hukum yang Korup

Negara Indonesia adalah negara hukum. Tetapi di Indonesia tidak pernah ada keadilan atau kalaupun ada, sangat sulit mencarinya. Perlu perjuangan ekstra keras agar bisa menemukan keadilan dinegeri yang mengaku rakyatnya sangat religius. Jangan tanyakan pada lembaga penegak hukum dengan jajaran aparatnya karena dengan mudah saja kita akan mendapati bahwa disana tidak ada keadilan. Tetapi jika berbicara di depan publik, para aparat penegak hukumnya sangatlah fasih berbicara tentang hukum. Secara hukum seharusnya seperti ini, seperti itu dan seterusnya. Satu hal yang tidak bisa dipastikan dari aparat penegak hukum adalah bagaimana soal moralitas yang mereka miliki. Hanya saja para aparat penegak hukum di Republik ini juga memang sangat fasih mengatakan bahwa diri mereka bersih dari segala bentuk penyalahgunaan wewenang. Tanpa sedikitpun rasa bersalah mereka akan mengatakan "demi Tuhan saya tidak pernah menerima uang itu..." kata mereka selalu.

Begitu murah nama-nama Tuhan mereka sebutkan dan seakan-akan ingin menunjukkan bahwa diri merekalah yang paling bersih dan jujur. Saya tidak pernah mengerti bagaimana rakyat Indonesia menanggapi para pejabat yang selalu membawa-bawa nama Tuhan ketika disebut-sebut melakukan penyalahgunaan wewenang. Adakah rakyat percaya ataukah sebenarnya menyimpan rasa kemuakan yang luar biasa?.

Faktanya bangsa ini tidak pernah beranjak pada kemajuan dibidang kesejahteraan rakyatnya. Kemiskinan masih membelit kuat rakyat kebanyakan sementara pejabat-pejabat bergelimang harta. Korupsi masih merajalela bagai penyakit yang tak kunjung bisa disembuhkan. Begitu merjalelanya korupsi sampai-sampai banyak dari rakyat Indonesia yang hidupnya bergantung dari perbuatan korupsi. Bahkan mungkin bangsa ini justru akan kolaps jika korupsi tidak bisa dilakukan.

Kasus besar soal korupsi beberapa hari ini mengemuka terkait perang cicak vs buaya (KPK vs Polri). Isunya begitu kuat sehingga pembentukan opini publik dilakukan berbagai pihak dengan begitu kerasnya. Polri dan KPK sama-sama berusaha mempengaruhi opini masyrakat bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan. Polisi bersikeras bahwa di KPK (para pimpinannya) terlibat kasus korupsi dalam bentuk pemerasan atau penyalahgunaan kewenangan. Lalu apa yang mereka lakukan adalah sesungguhnya sudah berdasarkan hukum termasuk menahan Bibit dan Chandra. Sebaliknya KPK melalui pengacaranya juga membeberkan fakta bagaimana kuatnya rekayasa dibalik penahanan Bibit dan Chandra. Bahkan diduga keras ada upaya pelemahan KPK, hal ini bisa disimak dari adanya rekaman penyadapan telepon yang dilakukan KPK terhadap Anggodo Widjoyo yang rekamannya diputar di Mahkamah Konstitusi selasa 3 November lalu. Mediapun kemudia dimanfaatkan dengan sangat maksimal untuk membentuk opini. Semuanya merasa diri benar dan semuanya menyebut diri mereka "suci", bersih dari tindakan kotor korupsi. Intinya semua membantah melakukan korupsi, semua adalah pejabat-pejabat jujur yang tidak ikut-ikutan merusakan bangsa. Itulah mereka ketika tampil di media atau didepan publik.

Tetapi mata kita lalu dicolok dengan keras atas fakta-fakta bagaimana para aparat penegak hukum tangannya belepotan oleh lumpur-lumpur suap. Siapapun yang berperkara di pengadilan pastilah akan merasakan bagaimana kerasnya aroma suap menyuap untuk memperlicin urusan hukum. Bagaimana pejabat yang sudah diduga melakukan korupsi bisa tetap melenggang menjalankan jabatannya. Banyak bantuan rakyat miskin yang dikorup dan dana proyek untuk pembangunan banyak yang masuk ke kantong pejabat. Ini fakta-fakta yang membuat hati rakyat yang sadar sangat tersakiti. Lalu didepan publik para pejabat akan dengan mudah merasa diri "suci" atau mengaku diri pejabat bersih.

Tidak banyak yang bisa memberi kita harapan bahwa akan ada perbaikan. Bahkan presiden Republik Indonesia yang dipilih dengan suara hampir 60 persen pemilihpun seakana-akan takluk dihadapan prilaku korup. Tiada ketegasan, tiada keberanian untuk secara serius melawan korupsi. Ataukah semua karena kita telah gagal sebagai bangsa untuk membangun moralitas bahkan mungkin saja kita tidak pernah memiliki moralitas?. Padahal moralitas adalah inti dari rasa keadilan. Inilah persolannya yang mendasar ketika berbicara Indonesia sebagai negara hukum. Ketika tiada moralitas diaparat lembaga penegak hukum maka Indonesia menjadi negara Hukum yang Korup. Dimana hukum justru menjadi alat untuk melakukan korupsi.

Wednesday, October 21, 2009

Revolusi, Reformasi atau Kudeta militer?

Lorong gelap masih membentang di depan bangsa ini ketika ucap janji presiden dan wakil presiden menggema di Gedung MPR/DPR Senayan Jakarta 20 Oktober 2009. Bagaimana tidak, presiden yang dilantik adalah presiden lama yang menang secara mutlak dan selama lima tahun pemerintahannya (2004-2009) tidak berhasil mewujudkan sesuatu yang membuat rakyat menjadi sumringah. Bahkan untuk mewujudkan janjinya ketika kampanye saja tidak berhasil dilakukan. Saya membaca sebuah tulisan di sebuah media cetak nasional yang menggambarkan bagaimana nasib rakyat di daerah dimana SBY ditahun 2004 lalu mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden. Tidak ada perubahan dan mungkin semakin mengenaskan.

Saya tidak bisa mengerti bagaimana SBY bisa menang dan diangka yang sangat telak diatas 60 persen padahal banyak sekali yang patut dipertanyakan dari kepemimpinannya selama 5 tahun. Ambil contoh bagaimana rakyat yang dibelit masalah akibat lumpur meluap di Sidoarjo. Begitu susahnya hidup mereka, pemerintah tak sungguh-sungguh peduli. Hidup rakyat miskin juga tak menunjukkan perubahan berarti. Harga BBM dinaikan beberapa kali kemudian diturunkan lagi dan anehnya penurunan yang semata-mata karena pengaruh harga minyak dunia diklaim sebagai prestasi. Ini benar-benar diluar nalar dan penuh kebohongan publik. Rakyat begitu saja percaya dan menjatuhkan pilihan pada SBY. Saya tidak mengerti apakah ini karena semata-mata karena SBY memang menjadi pilihan terbaik diantara yang terburuk di pilpres 2009 ini. Kalau memang demikian, celakalah nasib bangsa ini karena akan dipimpin oleh presiden yang terpilih karena sudah tidak ada pilihan lain lagi yang lebih baik.

Lalu, ditengah kritikan dan masukan gencar seputar pemerintahan yang diharapkan lebih baik dibawah SBY-Boediono, ternyata penyusunan kabinet sangat kental dengan nuansa balas budi. Koalisi besar parpol ditempatkan diatas kepentingan rakyat. Nasib rakyat Indonesia dipertaruhkan dengan sikap SBY yang memilih menteri yang sarat dengan nuansa kepentingan koalisi parpol. Memang lima tahun kedepan masih menyimpan misteri yang bisa mengadirkan dua fakta. Pemerintahan ini akan lebih baik atau berjalan lebih buruk dari sebelumnya. Perhitungan dan analisa menyebutkan pemerintahan ini akan berjalan tidak lebih baik dibanding sebelumnnya karena soal pemilihan anggota kabinet yang tidak profesional.

Belum lagi masalah korupsi yang entah mengapa semakin sulit diberantas. Presiden tidak menunjukkan komitmennya yang serius mengurusi masalah satu ini. Alih-alih mengurusi pemerintah cenderung mementaskan drama-drama penuh kelucuan yang direpresentasikan dari ributnya Polri dan KPK. "Cicak Vs Buaya" adalah pernyataan yang sangat tidak elegan dari petinggi Polri yang anehnya justru dibiarkan saja oleh Presiden. Tak ada langkah apapun diberikan kepada sang pelontar kata-kata itu padahal apa yang diungkapkannya sangat meresahkan.

Sulit membayangkan dengan pasti apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Ketika kita seperti berada dilorong gelap saya berpikir tentang kemungkinan bangsa ini melakukan revolusi. Saya pun bertanya kepada seorang teman yang adalah pengamat politik dari sebuah Universitas besar di Semarang. Saya menjadi kecewa karena menurutnya sangat tidak mungkin terjadi revolusi di Indonesia. Revolusi mensyaratkan adanya kelas-kelas didalam masyarakat. Ada kaum proletar dan borjuis yang tegas. Nah di Indonesia hal ini yang tidak ada. Banyak kaum proletar yang lebih nyaman mengidentifikasikan dirinya sebagai borjuis dan banyak berjois yang berlindung dibalik kedok tokoh agama dan pejabat publik. Kultur Indonesia kemudian memberikan ruang dimana kaum borjuasi dihormati oleh proletar atas alasan-alasan yang tidak masuk akal. Jadi kecil kemungkinan terjadi revolusi di Indonesia.

bagaimana kalau reformasi seperti ditahun 1999 lalu? Pertanyaan ini saya lempar ke kawan tadi. Ia juga mengatakan masih sulit. Peristiwa di tahun 1999 lebih karena kecelakaan politik akibat Soeharto yang "mutung" atau ngambek plus sakit hati akibat ulah anak-anak emasnya semacam Harmoko. Ketika orang jawa sudah mutung maka dia tidak lagi peduli atas apapun termasuk kekuasaannya yang sudah demikian kuatnya. Terjadilah reformasi ditahun 1999.

Tidak revolusi tidak reformasi. Lalu apa yang bisa menjadi titik harapan. Tanya saya mengejar ke kawan tadi. "Kudeta Militer" jawabnya. Wah ini sebuah solusi yang sangat tidak saya harapkan, tetapi inilah konon yang paling mungkin bisa memperbaiki segala sesuatunya di Indonesia. Syaratnya pemimpin kudeta militer adalah seorang jenderal yang benar-benar ingin membawa bangsa ini kepada situasi yang lebih baik. Perbaikan di tata pemerintahan dilakukan begitu kudeta dilakukan. organisasi-organisasi negara ini dibersihkan dari orang-orang rusak dan dilakukan pembersihan kepada mereka yang dianggap penuh dengan korupsi. Lalu semuanya disiapkan termasuk calon pemimpin dari sipil. Konon di Spanyol dengan jenderal Franco nya pernah membuktikan hal ini. Pertanyaan mendasar, apakah mungkin militer di Indonesia akan melakukan kudeta dan apakah ada jenderal di militer Indonesia yang bisa menjadi penguasa sementara yang akan benar-benar memikirkan nasib rakyat? Ini misteri lain yang tidak bisa dipecahkan.

Namun masih ada harapan dimasa depan ketika kekuasaan SBY tak bisa lagi diperpanjang ditaun 2014 nanti. Akan muncul wajah-wajah baru sebagai pemimpin negeri yang mudah-mudahan itu adalah putra-putri terbaik Indonesia. Namun lagi-lagi ini masih misteri. Dengan sistem parpol yang acakadut penuh nepotisme dan suap menyuap tanpa ideologi yang kuat, maka elite yang akan muncul sebagai calon pemimpin kemungkinan adalah tokoh-tokoh sontoloyo.

Wednesday, August 12, 2009

Pahlawan, Penjahat dan Teroris di Negara Demokrasi

Siang ini saya kedatangan seorang tamu dari Salatiga. Pak Suwarto namanya, usia 60 tahun seorang tokoh Masyarakat di Salatiga. Datang untuk menyampaikan informasi bahwa beliau dengan sanggar Merah Putih nya akan menyelenggarakan lomba lagu-lagu perjuangan. Jelas Pak Suwarto adalah seorang seniman karena sering membuat naskah drama, monolog, tembang macopatan dan banyak lagi yang laennya. Namun percakapan yang menarik buat saya adalah saat beliau bercerita tentang bagaimana sebenarnya persoalan tentang Tuhan adalah sesuatu yang universal. Bahwa persepsi manusialah yang kemudian membuat kemasan menjadi berbeda-beda sesuai dengan batas pemikiran manusia itu sendiri.

Kemasan-kemasan ini kemudian menjadi agama-agama yang berbeda-beda. Persepsi manusia memang bisa melahirkan berbagai macam pandangan dan keyakinan. Manusia bebas memiliki persepsi yang melahirkan keyakinan yang berbeda pula. Namun ketika persepsi ini dipaksakan kepada pihak lain yang jelas-jelas memiliki persepsi sendiri, ketika itulah terjadi benturan-benturan termasuk juga konflik-konflik.

Setelah Pak Suwarto pulang, saya tidak melanjutkan persoalan persepsi yang berbeda dikaitkan dengan agama melainkan dengan persoalan Pahlawan dan Penjahat. Saya memikirkan ini karena persoalan terorisme kembali mencuat setelah rangkaian berbagai kejadian mulai dari pengeboman di Mega Kuningan sampai dengan penggrebekan di Temanggung. Saya berpikir adakah semua dari kita sepakat menyebut para pelaku pengeboman sebagai penjahat atau malah sebaliknya sebagai pahlawan. Jawabannya mungkin tergantung dari persepsi kita dalam memandang tindakan mereka untuk kepentingan apa dan siapa. Tetapi saya meyakini bahwa ada sedikit orang yang jelas-jelas menganggap pelaku pengeboman di Mega Kuningan adalah pahlawan yang selanjutnya bisa merangsang mereka untuk melakukan hal serupa.

Lalu saya berpikir tentang bagaimana media berusaha mengekspose persoalan terorisme ini dengan sebesar-besarnya. Karena media memang harus independen, tidak jarang semua pandangan boleh masuk. Antara yang memang sepakat bahwa pengeboman adalah tindakan yang tidak manusiawi apapun alasannya dan pandangan bahwa apa yang dilakukan adalah bentuk dari sebuah perlawanan yang janjinya sangat "menggiurkan" yakni MASUK SURGA. Ini berarti tampilnya sosok pelaku pengeboman di media, bisa jadi dianggap penjahat bagi sebagian orang dan sebagian lainnya adalah Pahlawan. Sulit memang memandang persoalan ini dengan sikap yang tegas, terlebih lagi Indonesia saat ini adalah negara demokrasi yang bahkan cenderung sangat liberal. Siapa saja boleh berpikiran apa saja. Dengan mantra Demokrasi Indonesia kemudian menjadi sebuah negara yang bentuknya boleh saja digugat dan diganti sesuai kehendak mayoritas.

Memang demokrasi membebaskan siapa saja untuk memiliki persepsi apa saja. Kita boleh memandang siapa saja bisa sebagai pahlawan atau penjahat. Kita bebas menjadikan siapa saja sebagai ilham untuk tindakan-tindakan kita. Jangankan tindakan mengebom yang lengkap dengan janji Indah masuk surga, tindakan percobaan bunuh diri dengan memanjat tower menara saja mudah di tiru oleh orang lain begitu televisi menyebar berita soal percobaan bunuh diri serupa.

Pertanyaan di benak saya kemudian menjalar kemana-mana. Satu pertanyaan yang terbesar adalah bagaimana kemudian tindakan terorisme bisa dilenyapkan dari Indonesia. Dengan segala kondisi saat ini, sepertinya tidak ada harapan bahwa terorisme akan bisa dilenyapkan. Demokrasi yang cenderung liberal dinegara yang kepemimpinan nasionalnya lemah plus dengan tingginya angka kemiskinan dan kebodohan, tidak pelak lagi Indonesia adalah surga bagi para teroris. Maka satu-satunya jawaban yang mungkin masih bisa menjadi solusi adalah bagaimana kepemimpinan nasional dikuatkan untuk berdiri diatas konsesus bersama 17 Agustus 1945 yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber Pancasila. Hanya saja lagi-lagi persoalan sistem Demokrasi yang cenderung liberal melemahkan kepemimpinan nasional seperti yang diharapkan. Mereka terlalu takut tidak berkuasa lagi, karena kekuasaan di sistem Demokrasi ditentukan oleh keinginan mayoritas melalui pemilu. Kepemimpinan nasional tidak canggung-canggung memilih menjadi penjahat daripada menjadi pahlawan bagi rakyatnya demi memuaskan keinginan untuk berkuasa.

Tuesday, August 04, 2009

Sinetron-Sinetron yang Menghina Intelektualitas

Belakangan istri saya jadi gandrung nonton sinetron "Cinta dan Anugerah". Padahal sebelumnya dia tidak begitu doyan menikmati sinetron. Sayapun jadi ikut-ikutan menonton, meski saya tidak menyukai sinetron-sinetron Indonesia sekarang ini. Saya mengira ada yang istimewa dari sinetron yang dibintangi Nabila Syakib dan suaminya Bunga Cintra Lestari ini sampai-sampai istri saya menyukainya. Ternyata sama saja, sinteron ini menghina intelektualitas saya. Ceritanya berputar-putar dan benar-benar tidak masuk akal. Belum lagi settingnya yang sangat mengabaikan kecerdasan saya karena diluar logika.

Bagaimana misalnya ketika tokoh-tokoh Reza dan Alvian diculik dan disekap disebuah hutan. Para perempuan dicerita ini yakni Nabila, Aira, Sintia, Hany dan Ibu Safira menolongnya dan masuk hutan. Konon hutan tempat disekapnya Reza dan Alvian begitu lebat sampai-sampai membuat mereka harus teresat. Jika settingnya memang hutan lebat, tentulah harusnya mereka tidak datang dengan apa adanya tanpa alat dan perlengkapan apapun. Padahal dari dialog yang ada, mereka juga berpikir disana ada binatang buas. Trus masuk Hutan dengan ada binatang buasnya, kok tidak bawa apa-apa. Ajaibnya mereka kemudian bisa tetap keluar dengan wajah dan penampilan yang sangat masih menawan.

Lalu ada cerita bagaimana kemudian tokoh Geo (apa Jio???) yang adalah mister X jatuh cinta pada Nabila. Padahal Nabila juga direncanakan untuk dihabisi (dibunuh) bersama-sama ketika mereka berusaha menolong Reza dan Alvian. Lalu bagaimana cerita bisa tidak menghina intelektualitas ketika ada tokoh yang mencintai seseorang padahal dia sebelumnya akan dibunuh?

Semua sinetron-sinetron di tv-tv nasional gombal dan melecehkan kecerdasan penontonnya. Banyak cerita-cerita tak masuk akal terutama bagaimana Jakarta yang begitu luasnya seolah-olah hanya berada dalam lingkup 1 RT saja. Tokoh-tokohnya yang berkelindan hubungan, entah anak angkat, ibu kandung, yang terpisah sudah cukup lama, tiba-tiba bertemu begitu saja. Belum lagi latar belakang konflik yang dibuat hanya berkisar perebutan harta. Pasti ada seorang lelaki kaya yang jatuh cinta pada perempuan miskin, dimana orang tua tidak menyetujui dan ada tokoh jahat lainnya yang ingin menguasai harta keluarga si kaya. Si jahat lalu melakukan segala upaya yang lagi-lagi diluar akal yang jelas-jelas melanggar hukum, tetapi toh diceritakan berhasil dan tidak tersentuh hukum.

Uniknya meski sudah banyak sorotan dan kritikan dan faktanya memang sangat menghina intelektualitas, rating sintron tetap tinggi. Sintron "Cinta Fitri" misalnya meraup ratting tertinggi mengalahkan program lainnya. Saya tidak bisa menyimak dimana menariknya cerita sinetron yang dibintangi Shireen Sungkar ini disamping saya sangat terganggu dengan karakter vokal Shireen yang sepertinya susah sekali kalau pas bicara. Belum lagi pemeran Fitri ini yang nyatanya masih sangat muda belia, usianya masih belasan tahun harus berperan seperti ibu rumah tangga dengan satu orang anak. Tapi ya... itu tadi, mayoritas penonton menyukai sinetron ini sampai-sampai dibuat episode yang sangat panjang. Entah dimana dan kapan akan berakhir. Banyak mungkin yang sudah menyadari bahwa sesungguhnya mereka hanyalah "dikerjai" oleh para pembuat sintron ini. Tetapi kesadaran ini belum mampu membuat mereka beranjak untuk tidak menontonnya. Alih-alih berpaling, justru kemudian mereka menjadi penggemar setia.

Mbah Surip di Negeri yang Pemimpinnya Korup

Segala sesuatu didunia ini yang pernah dilahirkan atau diciptakan maka ia akan pasti menemui kematiannya. Karena itulah semua manusia pasti akan mati karena semua manusia pernah dilahirkan. Kadang kematian itu yang penuh misteri karena tidak jelas kapan akan menjelang. Seperti berita siang hari ini Selasa (4 Agustus 2009) "Mbah Surip, Meninggal". Mengejutkan memang, karena Mbah Surip beberapa waktu belakangan namanya begitu terkenal gara-gara lagu "Tak Gendong". Lewat facebook saya melihat ada banyak ucapan duka cita lengkap dengan kalimat-kalimat pengiringnya. Tapi ada satu yang membuat saya cukup tertarik. Teman saya yang sedang menyelesaikan pendidikan Doktoralnya di Surabaya menulis kurang lebih begini"Orang Baik itu memang lebih cepat mati. Tetapi kenapa orang yang menjengkelkan tidak mati-mati".

Saya sepakat kalau teman saya ini mengatakan Mbah Surip orang baek, meski saya tidak begitu mengenalnya. Tetapi dari beberapa tulisan di media menunjukkan bagaimana kualitas Mbah Surip sebagai sosok selebritis yang namanya melejit bak roket gara-gara lagu "Tak Gendong". Sederhana dan apa adanya. Ketenaran tidak membuatnya menjadi sosok yang harus bersikap tinggi hati. Ia mengatakan dirinya sedang belajar untuk salah, karena belajar baik sudahlah biasa. Ungkapannya " Ilove u Full" bagi saya juga penuh makna, bagaimana cinta itu harusnya bisa menjadi sebuah semangat untuk meluluhkan semua perbedaan. Semua orang pantas dicintai, dan itu cinta yang sepenuh hati (full). Bayangkan saja jika semua orang mau seperti Mbah Surip dan mengatakan dengan sungguh-sungguh "Ilove u full", betapa indahnya dunia ini.

Dalam konteks ke Indonesiaan kini, perlu menjadi perhatian bagi para pemimpin negeri ini untuk berkata"Ilove u full" pada semua rakyat yang dipimpinnya. Bukan hanya kepada teman, kelompoknya dan orang-orang disekitarnya saja. Mencintai rakyat sepenuh hati, maka pemimpin akan menjadikan jabatannya sebagai sebuah amanah untuk benar-benar demi rakyat. Mencintai rakyat dengan sungguh-sungguh akan menghindarkan diri para pemimpin dari keinginan untuk korupsi. Betapa indah Indonesia ini jika korupsi tidak menjadi cara pejabat untuk memperkaya dirinya. Betapa sejahtera rakyat jika Indonesia ini bebas dari segala bentuk korupsi. Dan itu hanya bisa terwujud jika pemimpin yang diberi kepercayaan rakyat benar-benar sepenuh hati mencintai rakyatnya.

Tetapi memang benar kata teman saya di facbook tadi, "Orang baik itu memang cepat mati, sementara orang jahat tidak mati-mati". Lalu di Indonesia, bagaimana musisi-musisi jumawa, bermoral bejat, bertampang manis tetapi prilakunya seperti binatang dan fasih bernyanyi religius, selalu hidupnya segar bugar. Dan yang terpenting tetap dicintai dan dipuja para penggemarnya. Sementara Mbah Surip atau misal Gombloh tidak berumur panjang. Begitulah mungkin hidup dan misteri Tuhan atas kehidupan manusia.

Lanjut ke soal pejabat-pejabat korup di Indonesia bermuka tembok bertengger dengan jumawa menjadikan rakyat hanyalah alat untuk melegalkan kekuasaannya yang korup. Mereka tidak akan mati-mati bahkan mungkin akan mati lama. Apalagi ditengah rakyat yang seperti kebingungan membedakan kebenaran sejati dan kebenaran cuma pura-pura, maka pejabat-pejabat korup ini ibarat hidup di sorga dunia.

Ya...Semoga Mbah Surip bisa tenang di alam sana. Dan gema "I Love U PULL" akan menjadi semboyan banyak orang dan menjadi spirit, bagaimana Indonesia ini bisa berubah menjadi lebih baik.

Tuesday, July 28, 2009

Demokrasi Menyuburkan Terorisme di Indonesia?

Pilihan menjadi negara demokrasi bagi Indonesia jelas bukanlah tanpa resiko. Tetapi Sayangnya bangsa ini tidak siap menyikapi dengan bijak semua resiko dari efek samping sistem demokrasi. Bahkan demokrasi yang sedemikian liberalnya di Indonesia saat ini diyakini sementara pihak menjadi penyebab suburnya tindakan terorisme di tanah air. Mungkin pernyataan ini ada benarnya mengingat Bom berbau terorisme agama terus saja meledak di Indonesia seolah-olah tidak ada satupun yang bisa mencegahnya.

Demokrasi memberi ruang bagi setiap individu didalam masyarakat untuk mengekspresikan kepentingan politiknya dihadapan publik. Hampir semua bentuk ideologi kemudian menjadi punya hak untuk hidup kecuali ideologi komunis yang memang masih sangat dimusuhi oleh negara. Meski sudah jelas bahwa konstitusi negara Indonesia menyebutkan Pancasila sebagai dasar negara, faktanya ideologi berbasis agama dibiarkan tetap tumbuh subur dan berkembang dengan sebebas-bebasnya mulai dari yang beraliran lembut sampai yang super keras. Tidak ada lagi pembatasan dan setiap upaya pembatasan akan dituding sebagai bentuk anti demokrasi.

Faktanya pasca Reformasi berbagai ragam konflik-konflik yang sebenarnya sangat suit dijumpai di masa orde Baru mengemuka dan menjadi tontonan keseharian masyarakat Indonesia. Mulai dari konflik di Ambon, Poso, lalu aksi organisasi yang dengan arogan dan secara terbuka melakukan tindakan anarkis atas nama agama seolah-olah tidak mampu (tidak mau?) diselesaikan dan diantisipasi aparat keamanan. Demikian juga dengan tindakah dan aksi terorisme. Bom bali I dan II lalu Bom di Jakarta yang beberapa kali meledak memberikan kita gambaran betapa bebasnya teroris di Indonesia.

Para elite politik di tingkat pusat termasuk mereka yang duduk sebagai pimpinan negara saat ini, sepertinya berperan sangat penting pada tumbuh suburnya terorisme. Masalah agama sebagai sebuah keyakinan dimainkan dimensi politisnya dengan sangat piawai oleh para pemimpin. Isu agama ini pasca reformasi menjadi isu yang sangat penting untuk menggaet dukungan politis. Banyak pemimpin yang duduk di kursi kekuasaan enggan dengan tegas menyikapi gerakan-gerakan yang sesungguhnya mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber Bhineka Tunggal Ika. Keengganan mereka tidak lepas dari ketakutan akan kehilangan dukungan politis. Dengan sistem demokrasi yang demikian terbuka dimana setiap pemimpin dipilih melalui sebuah pemilihan umum, maka dukungan dari basis agama tentulah jalan pintas yang sangat perlu diperlihara. Kita lalu bisa melihat bagaimana lemahnya kepemimpinan nasional atas munculnya perda-perda yang didasarkan pada keyakinan agama tertentu.

Ditingkat akar rumput, ketiadaan sikap tegas pemimpin atas isu-isu agama yang mengancam NKRI diterjemahkan dalam bentuk yang sangat permisif dan penerimaan yang tanpa filter memadai atas gerakan-gerakan yang bergerak menjauh dari cita-cita Pancasila. Tidaklah heran kalau kemudian disebutkan rakyat sangat permisif atas gerakan para terorisme. Demikian juga bagaimana "dibiarkannya" dengan bebas Nurdin M Top bergerak di Indonesia yang menebar bibit-bibit terorisme. Identitas-identitas dan aktivitas-aktivitas keagamaan dibiarkan bergerak terlalu bebas dan tidak ada satupun yang mampu (tidak mau??) mengontrol sekalipun itu membahayakan ekistensi NKRI.

Nampaknya demokrasi di Indonesia membawa konsekuensi pada tidak jelas dan tegasnya banyak sisi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap pemerintahan Orde Baru yang baik,seperti sikap kepemimpinan nasional yang tegas pada gerakan yang mengancam NKRI tidak dilanjutkan. Ketakutan atas kehilangan dukungan politis menjadi faktor terbesarnya.

Disisi lain kita bisa melihat bagaimana penyikapan rakyat juga menjadi tidak jelas. Atas nama demokrasi pula, banyak anasir-anasir yang oleh rakyat dibiarkan bergerak sebebas-bebasnya dengan prinsip "Gue sih asik-asik aja asal dia gak ganggu gue". Maka dari itu, bom sedahsyat apapun yang akan diledakkan di Indonesia oleh para teroris tidak akan membuat semua rakyat Indonesia bergerak menentang dan melawan teroris selama korban yang jatuh tidak satupun ada kaitannya dengan mereka secara pribadi. Rasa kebangsaan kita memang semakin "termakan habis" atas nama demokrasi. Kepedulian kitapun sebagai bangsa semakin juah menipis karena kita tidak bisa melihat itu pada kepemimpinan nasional.

Yang bisa kita saksikan hari ini dari bangsa ini adalah betapa Demokrasi belum memberikan kita harapan, melainkan ancaman karena pemimpin kita lebih banyak mengambil keuntungan pribadi dan kelompoknya dari demokrasi. Sementara rakyat memilih menumbuh suburkan ego individu dan kelompoknya dan menjadi tirani mayoritas lalu mengabaikan minoritas meski hidup dalam rumpun bangsa yang sama.

Wednesday, July 15, 2009

Syeh Puji dan Rumor Suap Rp 15 Milyar

Syeh Puji atau Pujiono Cahyo Widianto adalah sosok yang nyentrik. Tidak jelas tentang gelar syeh yang disandangnya berasal darimana. Namun yang jelas Syeh Puji adalah pengusaha kaya raya dari usaha kerajinan Kuningan. Namanya belakangan menjadi sering disebut dimedia setelah sikapnya yang dengan berani melawan aparat kepolisian bahkan menantang jika berani menangkap dan memenjarakannya dalam kasus pernikahan siri nya dengan gadis dibawah umur. Kasusnya sudah cukup lama dan Syeh Puji sudah sempat ditahan beberapa bulan lalu, namun kemudian penangguhannya dibebaskan dan hanya diwajibkan melakukan wajib lapor seminggu sekali.

Selasa (14/7) lalu, Syeh Puji dibawa paksa oleh tim Resmob Mapolwiltabes Semarang setelah melalui insiden yang cukup dramatis. Sehari sebelumnya media menyiarkan berita bagaimana sikap Syeh Puji yang dengan gaya khasnya menantang pihak penegak hukum. Sambil bergaya ala petinju yang menggerak-gerakkan tangannya seperti hendak memukul, Syeh Puji mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Dia juga menyebut bahwa pihak-pihak yang menyebut mertuanya menerima uang agar mau menyerahkan Ulfah untuk dinikahinya adalah bentuk penghinaan.

Kasus ini sangat menarik untuk dicermati mengingat pernikahan dibawah umur sebenarnya di Indonesia khususnya di Jawa mungkin merupakan sesuatu yang lazim. Pelaku pernikahan gadis dibawah umur tidak hanya dilakukan oleh Syeh Puji seorang. Jika mau jujur, kasus serupa terjadi sangat banyak. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa justru kasus Syeh Puji ini membuat aparat kepolisian begitu bersemangat untuk mengusut dan menuntaskannya??.

Awal mencuatnya kasus ini ke media sepertinya bermula dari ketidaksengajaan. Syeh Puji yang sering bicara ceplas-ceplos dengan tanpa beban mengaku telah menikahi seorang gadis dibawah umur, bahkan telah mempersiapkannya untuk menjadi manajer dari perusahaan yang dibangunnya. Wartawan yang mendengar info ini lalu membuat berita dan nada pro kontra lalu mengumandang di media. Pihak-pihak tertentu yang berdiri atas nama perlindungan anak mendesak kepolisian menindak Syhe Puji karena melanggar hukum. Kepolisianpun tidak menunggu lama untuk segera memanggil Syeh Puji ke Markas polisi untuk diusut secara hukum. Ketika itu Syeh Puji datang dengan rombonganmirip selebritis menumpang mobil BMW Merah dengan kap terbuka dan dikawal sejumlah orang berseragam mirip pasukan. Ketika disebut-sebut dirinya bisa dipenjara karena menikah siri dengan gadis dibawah umum, Syeh Puji bahkan telah lebih dulu membangun bangunan mirip penjara dirumahnya. Lagi-lagi dengan gaya khasnya Syeh Puji menantang aparat kalau berani memenjarakannya.

Ada banyak rumor yang beredar seputar kasus ini terutama seputar pemerasan yang dilakukan sejumlah aparat kepada Syeh Puji agar bisa lepas dari jerat hukum. Angka belasan milyar rupiah disebut-sebut sebagai bentuk suap kepada aparat agar Syeh Puji bisa ditangguhkan penahanannya. Faktanya setelah sempat mendekam dipenjara Mapolwiltabes, Syeh Puji ditangguhkan penahannya. Lalu Syeh Puji sering tampil di berita memberikan ceramah tentang kewirausahaan disejumlah perguruan tinggi di Semarang. Rupanya aktivitas ini memicu polemik lagi. Dan desakan agar Syeh Puji di tahan lagi mengemuka.

Mungkin karena merasa telah "membayar" milyaran rupiah, Syeh Puji lalu berteriak bahwa dirinya telah diperas dan merasa berhak untuk bebas. Berita tentang uang suap ini pun beredar dan disebutkan bahwa Syeh Puji telah memberi 5 milyar rupiah kepada pengacaranya untuk mengurus perkaranya tersebut. Beredar juga rumor yang tidak bisa dipastikan kebenarnya, bahwa petinggi di Polda Jateng juga telah menerima Rp 10 milyar dari Syeh Puji. Jadi total uang Syeh Puji berjumlah Rp 15 milyar yang telah disedot oleh aparat hukum. Rumor yang Rp 10 Milyar untuk petinggi di Polda Jateng masih belum diungkap, namun konon telah dilaporkan oleh tim kuasa hukum Syeh Puji langsung ke Markas Besar Polri di Jakarta.

Syeh Puji sepertinya memang telah menjadi semacam Sapi Perah bagi aparat penegak hukum. Mengetahui bahwa yang bermasalah adalah orang kaya yang sering menunjukkan tumpukkan uangnya kepada publik, aparat hukum sepertinya bersemangat untuk mengusutnya. Bahkan sejumlah LSM juga ikut-ikutan dengan menggelar demo ke kantor penegak hukum mendesak Syeh Puji diusut dengan tuntas. Syeh Puji sepertinya menjadi bunga yang mekar karena memiliki kasus hukum dan tersium harum semerbak karena kekayaannya, kemudian mengundang banyak pihak untuk ikut menghisap kekayaannya. Sementara kasus pernikahan siri dengan gadis dibawah umur yang dilakukan oleh orang biasa yang tidak kaya raya, tidak pernah ada yang menggubris, tidak ada yang berbicara lantang apalagi sampai demo ke kantor penegak hukum.

Namun terlepas dari semua rumor tentang pemerasan yang dirasakannya, sosok Syeh Puji memang kontroversial. Ia sering dengan lantang menantang aparat hukum dan menjadikan hukum seolah-olah tidak ada. Gayanya yang nyentrik dan bicara blak-blakan membuat aparat penegak hukum merah telinganya. Mungkin inilah yang sering disebut orang seperti menggali lubang sendiri. Dengan karakter seperti Syeh Puji, sepertinya dapat diterima bahwa sikapnya yang menantang aparat hukum karena ia sendiri mengetahui dan membuktikan bahwa para aparat tidaklah bersih. Syeh Puji konon telah memiliki rekaman video ketika ia menyerahkan uang suap kepada petinggi di Polda Jateng sebesar Rp 10 Milyar. Jika saja rumor ini benar, maka tidak heran kalau Syeh Puji berani bersikap menantang aparat Kepolisian. Kita tunggu saja kisah selanjutnya dari Syeh Puji, beranikah kepolisan memenjarakannya di balik jeruji besi???.