Postingan

Menampilkan postingan dari Desember 9, 2007

Sabar itu Tidak Berbatas

Hari ini, saya ingin bicara tentang kesabaran. JIka sabar ada batasnya, masihkah dia disebut kesabaran? Sabar adalah sabar selama disana ada tidak ada apapun yang membatasinya. Sabar adalah sama dengan luasnya angkasa raya yang tidak bertepi dan tak berujung. kesabaran manusia harusnya mengikuti kaidah ini. Ungkapan "Sabar ada Batasnya" hanya menjadi pembenaran agar manusia boleh saja untuk tidak sabar lalu melakukan sesuatu atas alasan ini. Banyak kekerasan yang seolah-olah mendapat pembenaran dari ungkapan ini. "Sabar itu tak berbatas" mungkin ungkapan ini yang harusnya lebih banyak dilontarkan dan diucapkan secara gamblang. Jika manusia menjadikannya sebagai acuan dalam bersikap, maka tiada lagi pembenaran atas banyak kekerasan. Harusnya sabar itu, sekali lagi tidak berbatas. Ia ada ditengah-tengah hamparan samudra nan maha luas, melayang diangkasa yang tak bertepi.

Ironi Kemiskinan di Surga Dunia

Ketika membaca Kompas edisi Minggu 9 Desember 2007, berjudul "Bali di Titik Nol", saya jadi teringat pengalaman saya sekitar 10 tahun lalu saat masih aktif di Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) Unit Universitas Udayana. Ini soal potret kemiskinan manusia Bali yang pulaunya dikenal dengan sebutan Surga Dunia.
Waktu itu sebenarnya dengan setengah hati saya berkata iya, saat dua teman saya, Mas Triyanto dan Iskandar mengajak saya ke desa Kubu Karangasem untuk memberi bantuan kesehatan pada penduduk disana. Setengah hati karena saya yakin tempatnya pastilah jauh dan terpencil, belum lagi perjalanan kesana akan kami tempuh dengan menggunakan angkutan umum. Dan benarlah kenyataanya. Dari rumah saya diantar kakak dengan sepeda motor ke kampus, lalu naik angkot ke Terminal Batubulan. Dari sini perjalanan naik Bus mini tujuan Karangasem dan turun diterminal... (saya lupa namanya) dan masih harus ganti moda angkutan lagi sampai kemudian tiba di desa Kubu. Saya pikir perja…