Postingan

Film “Lucky”, Mencari Jawaban Misteri Pasca Kematian Manusia

Gambar
Apa yang terjadi pasca kematian manusia? Sesungguhnya tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti karena benar-benar sebuah misteri. Apakah jiwa manusia akan pergi ke alam baka kemudian saat kiamat datang, arwah-arwah itu di sortir, ada yang masuk neraka ada yang masuk surga?. Ataukah jiwa manusia akan ber reinkarnasi (lahir kembali) menjadi manusia atau mahluk lain sesuai karma nya selama hidup?. Tetapi ada pula yang meyakini bahwa setelah mati yang ada hanyalah kematian, diam, hening, gelap. Mana yang benar? Sekali lagi tidak ada satupun mahluk di bumi ini yang bisa memastikan.
Pertanyaan tentang apakah yang terjadi setelah manusia mati inilah yang berusaha dijawab dalam Film berujudl “Lucky” yang dirrilis sekitar akhir 2017 lalu oleh Magnolia Pictures. Mengangkat kehidupan lelaki tua veteran perang dunia II, berusia hampir 90 tahun bernama Lucky yang diperankan aktor Harry Dean Stanton. Lucky digambarkan menjalani kehidupan sendiri, tidak memiliki istri, anak atau keluarga disebu…

Kegembiraan Kecil Dibalik Merananya Bisnis Media Cetak

Setiap pagi saya menyempatkan diri membaca Koran di tempat saya bekerja. Kantor saya masih berlangganan 2 koran lokal dan 1 koran nasional. Sambil menyimak judul-judul berita, saya sesekali mengamati tiap-tiap halaman Koran dan menemukan fakta hampir sebagian besar halaman Koran kini dipenuhi dengan berita. Hanya sedikit sekali iklan display atau banner produk yang tersaji. Bahkan Koran nasional yang dulu kabarnya pemasang iklang harus indent agar iklan bisa dimuat kini ikut nampak sepi. Pun demikian dengan iklan baris. Jumlahnya makin menyusut. Kalaupun Koran lokal masih terlihat ada hingga 2 halaman iklan baris, itu adalah iklan baris yang sudah di diskon. Bayar 1 kali dimuat gratis 2 kali.
Media cetak seperti Koran harian kini memang makin merana. Seakan-akan sedang menghitung nafas-nafas terakhirnya. Namun demikian ada sedikit kegembiraan kecil dibalik merananya bisnis media cetak yang mungkin dirasakan para wartawan/jurnalis. Lalu, apakah kegembiraan kecil wartawan dibalik mera…

Menuntut Tanggungjawab Perusahaan Penyedia Media Sosial

Hoax dan ujaran kebencian di media sosial melahirkan persoalan yang pelik bagi masyarakat dunia yang terlanjur gandrung dengan demokrasi. Dilema yang dihadapi adalah apakah hoax dan ujaran kebencian di medsos harus di batasi mengingat dampak buruknya yang sangat besar, ataukah dibiarkan saja karena itu merupakan bentuk kebebasan berkespresi sebagai salah satu hak asasi manusia dalam masyarakat demokratis. Perdebatan antara yang berusaha membatasi dengan yang tidak ingin dibatasi berlangsung cukup tajam. Tetapi sepertinya banyak negara yang mulai khawatir terutama karena hoax dan ujaran kebencian telah mengancam segi-segi kehidupan manusia yang beradab.
Di Indonesia misalnya, hoax dan ujaran kebencian telah menjelma sebagai kekuatan yang meletupkan watak intoleran. Kegagapan dalam mengantisipasi beredarnya Hoax dan ujaran kebencian di medsos menjadikan banyak generasi muda di Indonesia menjadi intoleran.Hoax dan ujaran kebencian bahkan telah dengan suskses mengaburkan kebenaran di pi…

Apakah Jurnalisme itu Diajarkan?

“Fuck Harvard”, demikian kata-kata yang dilontarkan berulang kali oleh kawan-kawan Jay Bahadur, penulis buku “The Pirates of Somalia” ketika menyambutnya di Rumah orang tuanya di Kanada sepulang dari Somalia. Bahkan tidak hanya kata-kata, di kaos yang mereka kenakan juga tertulis besar-besar ; “Fuck Harvard”.
Itulah sepenggal adegan bagian terakhir film “The Pirates of Somalia” yang menceritakan kisah nyata Jay Bahadur, seorang pemuda berkebangsaan Kanada yang sangat ingin menjadi jurnalis dan meyakini bahwa cita-citanya itu hanya akan tercapai jika ia bisa kuliah di jurusan jurnalistik di Universitas Harvard.
Namun ketika bertemu secara tak sengaja dengan Seymour Tolbin, pensiunan jurnalis senior, Jay disadarkan bahwa pendidikan jurnalis di Harvard University takkan bisa menjadikannya jurnalis hebat. Tolbin dengan tegas mengatakan, jurnalisme itu tidaklah diajarkan tetapi dilahirkan.. “Jika kamu ingin menjadi jurnalis hebat datanglah ketempat yang menantang” kata Tolbinn.  Al Pacino y…

Melawan Hoax, Kedepankan Cara Berpikir Skeptis

Kandungan ketidakbenaran atau ketidaksesuaian dengan fakta dalam konten-konten di media sosial makin hari semakin semakin tinggi. Umum menyebutnya sebagai konten Hoax. Tidak kurang pemerintah dalam hal ini presiden RI Jokowi merasa gerah dan mengeluarkan pernyataan bahwa konten hoax haruslah diperangi. UU ITE hasil revisi memberikan kewenangan kepada negara (melalui aparaturnya) untuk menutup akun-akun atau sumber-sumber yang menyebarluaskan konten Hoax.
Menarik untuk mencermati konten-konten hoax terutama karena dampak/efeknya yang dinilai sudah sangat mengkhawatirkan. Bicara mengenai efek media, maka kita tidak hanya sekedar membicarakan akibat-akibat melainkan juga mengenai komponen-komponen dasar dari komunikasi khususnya komunikasi massa. Ini berarti kita tidak bicara soal isi/konten saja tetapi juga sumber (komunikator) dan yang paling penting adalah penerima/receiver atau disebut juga komunikan. Penelitian mengenai efek media sesungguhnya memposisikan komunikan (penerima pesan) s…

Polisi Moral dan Tuhan Pemarah

Dalam sebuah perdebatan yang diunggah di facebook, seorang yang mengatakan bahwa urusan perbuatan asusila yang dilakukan adalah dosa yang akan ditanggung secara pribadi-pribadi setelah kematian sehingga tidak perlu ada orang yang menjadi polisi moral, dijawab dengan keras oleh seorang pemuka agama. Dengan nada tinggi sang pemuka agama berkata “Enak saja mengatakan ditanggung pribadi-pribadi, emang kalau nanti tuhan murka karena maraknya tindakan asusila lalu menurunkan bencana alam yang mati cuma pelaku asusila saja? Yang baik-baik juga ikut mati tau!!!”.
Menyimak perdebatan itu, saya lalu sedikit memahami cerita yang sekitar akhir Desember 2017 viral di media sosial ketika seorang perempuan bernama Sri Mulyani yang menegur 2 orang laki-laki yang  disangka gay karena nampak bermesraan diatas motor saat lampu merah.  Selain cerita Sri Mulyani ini, sempat ramai tentang pasangan yang diduga sedang berbuat mesum digrebek warga, ditelanjangi dan diarak keliling kampung. Kejadiannya di Cik…

Menyoal Metode Uji Kompetensi Wartawan Indonesia

Menjadi wartawan di Indonesia kini disyaratkan untuk lulus uji kompetensi dibawah pengawasan Dewan Pers. Ada 3 tingkatan komptensi wartawan, yakni muda, madya dan utama. Lembaga yang bisa melakukan uji komptensi wartawan adalah organisasi profesi (PWI, AJI dan IJTI), Lembaga penerbitan pers dan perguruan tinggi yang kesemuanya ditentukan oleh Dewan Pers.  Biasanya uji kompetensi dilaksanakan dengan metode terstruktur yang dilakukan dalam kurun waktu 1 hingga 3 hari saja. Masing-masing perserta ujian diuji sesuai tingkatannya. Komptensi muda lebih kepada aspek teknis, Madya pada apsek perencanaan, sementara tingkat utama menekankan pada aspek yang lebih filosofis. Umumnya penilian hanya dari apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan peserta uji kompetensi di hari ujian berlangsung.
Lalu, dapatkah pengujian yang hanya dilakukan dalam waktu demikian singkat dipergunakan untuk meyakinkan bahwa seorang wartawan berhak menyandang status kompeten?
Wartawan merupakan salah satu profesi yang…