Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Korban tewas yang jumlahnya mencapai belasan orang berjatuhan, puluhan lainnya masih dalam perawatan. Mereka adalah orang-orang yang menenggak minuman keras (miras) oplosan di Denpasar Bali. Entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa, yang jelas kasus serupa terjadi beruntun di sejumlah kota lain di Indonesia. Misalnya saja di Kota Semarang dan Kota Tegal Jawa Tengah. Banyak korban tewas setelah menenggak miras oplosan.

Sebenarnya Miras dalam masyarakat Bali merupakan bagian dari tradisi yang sudah menyatu cukup lama. Bahkan miras seperti Arak dan Berem termasuk Tuak wajib ada dalam setiap ritual agama Hindu meski jumlahnya tidak banyak. Arak misalnya juga menjadi salah satu aba-abaan , semacam oleh-oleh dari warga yang dibawa kerumah warga lain yang sedang melaksanakan ritual upacara agama selain beras dan dupa. Tetapi jelas, bahwa miras arak disini sama sekali tidak dimaksudkan untuk diminum melainkan dipergunakan untuk tetabuhan (persembahan kepada Bhuta Kala).

Hanya saja sejak dahulu tradisi minum miras ditengah kehidupan masyrakat Bali memang sudah ada. Misalnya saja istilah metuakan yang merujuk pada aktivitas minum tuak di sudut-sudut atau warung-warung tuak di desa. Dimasa lalu, tradisi metuakan jelas hanya boleh dilakukan oleh mereka-mereka yang sudah dewasa. Jangan harap anak kecil atau remaja boleh meminum tuak di areal publik dengan ikut metuakan. Pastilah orang-orang tua akan dengan tegas menolak mereka dan melarang keras jika berani-beraninya ikut metuakan. Selain itu minuman keras dimasa lalu juga jenisnya terbatas dan bahannya mungkin hanya sekedar memabukkan tidak sampai membunuh seketika.

Lalu, entah mulai kapan, akhirnya aktivitas minum minuman keras di Bali menjadi demikian masif nya. Banyak anak-anak dan remaja yang sudah mengenal dan menjadi peminum (istilah bagi mereka yang suka menenggak miras) aktif. Yang paling membuat kita tidak habis pikir adalah aktivitas minum minuman keras para remaja generasi muda ini bisa dilakukan diareal publik tanpa ada siapapun yang bisa melarang apalagi menghentikannya. Lalu kebiasaan remaja-remaja Bali menenggak Miras menjadi sebuah kewajaran yang diterima begitu saja oleh masyarakat Bali. Tidak ada lagi orang tua yang bisa melarang tegas anaknya yang ramairami minum arak di pinggir jalan. Kalaupun melarang dan marah-marah, si anak tidak begitu menggubris, lalu mereka tetap saja larut didalam aktivitas minum miras, bahkan bisa hampir setiap malam.

Mungkin pelaksanaan Bazzar di Banjar-banjar yang digelar untuk penggalian dana bisa diajukan sebagai salah satu pemicu masifnya aktivitas minum miras di Bali. Bazzar-bazzar inilah yang juga meruntuhkan tembok ketat yang menabukan minum miras bagi generasi muda. Bazzar disini adalah yang dilaksanakan di era 90 an, karena sebelum itu Bazzar masih berjalan baik dan mengincar untung hanya dari makanan dan minuman biasa, tanpa melibatkan penjualan Miras terutama jenis Bir.

Di era 90 an, Bazzar sebagai event yang disetujui dan digelar Banjar memang memposisikan semua tetua sebagai "penjaga" moral di Banjar tersebut menjadi sangat lemah. Keterdesakan untuk mendatangkan dana/untung sebesar-besarnya menenggelamkan nilai-nilai ideal yang selama ini dipegang teguh masyarakat. Termasuk bagaimana generasi muda (truna-truna) di Banjar tersebut terlindungi dari aktivitas minum miras. Dalam setiap bazzar, keuntungan terbesar hanya diperoleh dari menjual berkrat-krat bir. Semakin banyak krat-krat bir yang bisa dijual, semakin banyaklah untung yang diraup pihak Banjar. Atas nama meraup keuntungan inipula, teruna-teruna Banjar disajikan setiap malam tamu-tamu yang mabuk-mabukan karena menenggak banyak sekali bir. Bahkan tidak jarang ada teruna-teruna di Banjar itu yang ikut Mabuk karena diajak oleh para tamu. Tidak ada yang berani melarang atau protes termasuk para tetua Banjar sanga penjaga nilai-nilai moral. Lalu tertanamlah dibenak teruna-teruna di Banjar itu bahwa Mabuk karena miras bukanlah sesuatu yang dilarang lagi. Runtuhlah kemudian nilai moral yang menyebut bahwa minum miras sampai mabuk adalah sesuatu yang tidak baik digantikan nilai baru yakni "mabuk-mabukan itu boleh-boleh saja".

Dalam perjalannya kemudian, kontaminasi budaya menenggak miras berjalan dengan sangat cepat ke generasi yang jauh lebih muda. Orang tuapun seakan-akan tak berdaya karena institusi Adat setingkat Banjar bahkan desa Adat tidak mampu berbuat banyak. Kedua institusi yang sebelumnya begitu ketat mengatur dan menjaga nilai-nilai moral menjadi demikian permisif, lemah dan tak berdaya. Namun sebagai sebuah institusi kondisi ini sebenarnya kuncinya terletak pada persoalan pergeseran budaya dan pemikiran di masyarakat Bali sendiri. Disinilah peranan uang dan materi demikian kuatnya menjadi kendali. Sederhananya begini; Orang Bali kini lebih merasa nyaman ketika mengenakan baju yang mewah, tinggal dirumah megah, memiliki Balai banjar yang megah dan Pura tempat bersembahyang yang megah pula meski semua itu dibangun diatas akar moralitas yang rapuh. Semakin lama budaya yang dikendalikan uang ini semakin kuat dan disadari atau tidak semakin meruntuhkan nilai-nilai moral yang ideal.

Kembali ke soal menenggak minuman keras, Kondisi generasi muda di Bali sebenarnya jauh lebih memprihatinkan di bandingkan di kota besar yang saya ketahui. Disemarang misalnya, mencari warung penjual minuman Bir misalnya tidaklah mudah. Mungkin hanya toko/warung tertentu saja. Demikian juga aktivitas generasi muda yang menenggak miras tidak terlalu masif seperti di Denpasar Bali. Atau mungkin saja ada, tetapi karena saya belum begitu mengenal daerah-daerah di kota Semarang ini jadinya saya tidak bisa melihat dengan jelas. Persoalannya yang penting kini adalah, siapakah yang bisa menghentikan pergeseran nilai budaya ini??? Pemerintah?? Sangat tidak mungkin karena mereka terlalu asyik dengan mainan kekuasaan nya. Kalaupun mau, masyarakat lah yang harus lebih cepat merubah dirinya, melakukan revolusi mental budaya. Berani dengan tegas berdiri diatas nilai moral dan mengesampingkan keutamaan materi dan kenikmatan duniawi yang mencerabut akar jati diri mereka. Apakah mungkin? Tidak ada yang bisa menjawab pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!