Kekalahan Manusia Tani Bali

Anda yang pernah ke Terminal Ubung, pasti pernah melewati kawasan Pidada yang letaknya di belakang Terminal. Dan kalau Anda penduduk Asli Denpasar tetapi lahir di atas tahun 1994 mungkin tidak pernah mengetahui kalau kawasan Pidada dulunya adalah hamparan sawah produktif. Tahukah Anda kalau Nama Pidada diambil dari salah satu pura yang ada di kawasan yang kini telah menjadi pemukiman padat itu?. Kawasan Pidada sesungguhnya juga menyimpan jejak kekalahan manusia-manusia petani di Tanah Bali akibat menggilanya kebijakan Pembangunan tanpa arah jelas.

Nama pura yang kini dikenal dengan Pura Pidada, menurut penuturan para tetua di Desa Ubung sebelumnya disebut Pura Tabeng Dada (perisai diri). Perubahan menjadi Pidada disebutkan sebagai akibat pengucapan yang dipercepat dari tabeng dada. Ketika pembangunan belum mencapai kegilaannya, yang salah satunya diwujudkan dengan proyek pembangunan Jalan Gatot Subroto Barat, Pura Pidada berada di tengah-tengah hamparan sawah. Menilik dari nama, banyak yang menyebutkan dan meyakini bahwa Pura Pidada merupakan benteng niskala tanah Ubung. Setidak-tidaknya ini bisa dijejak dari peran sang pemangku Pura Pidada tiap upacara yang digelar dalam tingkat Desa Pakraman di Ubung selalu diposisikan sebagai penjaga (pengijeng). Kini pura yang sebelumnya juga diyakini para petani sebagai tempat memohon berkah ketika hama menyerang tanaman padi mereka, berada dalam himpitan pemukiman. Ketika sawah-sawah di sekitar Pura Pidada masih menghasilkan padi, petani yang merasa mendapat berkah diselamatkan dari
hama padi akan menghaturkan beberapa ikat padi pada saat piodalan yang jatuh pada Purnama Kapat sebagai ucapan terima kasih. Setelah tanah-tanah subur tidak lagi berupa hamparan sawah melainkan pemukiman penduduk, tradisi menghaturkan padi pun lenyap.

Sejak Jalan Gatot Subroto dibuka dengan program LC, kawasan Pidada pun dibuka dengan pembangunan Jalan Pidada. Harga tanah kemudian meroket dan memancing penduduk lokal menjual tanah-tanah mereka. Tidak hanya soal harga yang tinggi, tetapi terhentinya aliran air subak Ubung yang membuat lahan tidak lagi bisa diolah juga menjadi salah satu penyebab. Dalam kondisi seperti ini, pajak tanah mencekik hingga mencapai ratusan ribu per are dan memaksa penduduk menjual tanah mereka. Kepemilikan tanah kini telah beralih dari penduduk lokal ke pendatang. Memang tidak semua, karena masih ada sebagian yang hanya dikontrakkan atau ditempati langsung oleh sang pemilik tanah untuk tempat tinggal atau usaha.

Yang pasti kawasan Pidada kini telah berubah, berpenduduk sangat heterogen. Banyak pendatang dari berbagai daerah baik luar maupun dari Bali sendiri yang menempati tanah-tanah yang telah mereka beli atau kontrak. Heterogenitas tidak hanya dari segi asal, melainkan juga pekerjaan dan kepentingan masing-masing. Hilangnya hamparan sawah, juga membawa konsekuensi musnahnya generasi petani di Ubung. Tidak ada satu pun generasi muda di Ubung kini yang masih ingat bagaimana harus bergelut dengan lumpur mengolah tanah sawah untuk menghasilkan padi. Budaya agraris benar-benar sangat sulit dijejak di kawasan Pidada yang sama sekali tidak memberi ruang sedikit pun karena dijejali dengan pemukiman. Budaya agraris yang tergerus kini tergantikan budaya konsumerisme, komersialisasi pun terjadi. Hampir semua aspek yang bisa dijual akhirnya dijual demi pemenuhan kebutuhan duniawi. Kawasan Pidada yang telah berubah menjadi kawasan baru di mana cukup jauh dari jangkauan Desa Pakraman Ubung sulit diawasi, makin banyak menyimpan aktivitas komersialisasi yang melanggar etika, norma, moral bahkan hukum. Termasuk salah satunya praktik prostitusi yang tidak hanya dilakukan penjaja seks komersial (PSK) wanita tetapi juga waria.

Tumbuhnya praktik prostitusi mungkin hanyalah satu ekses negatif dari berubahnya hamparan sawah menjadi pemukiman baru akibat semangat pembangunan dari pemerintah yang mengatasnamakan kepentingan rakyat. Ketika kawasan Pidada yang konon secara niskala adalah benteng tanah Ubung diobrak-abrik, pertahanan terdalam warga Ubung sedang diusik. Prostitusi di kawasan Pidada Ubung mungkin juga menjadi cerminan bagaimana pertahanan (tabeng dada) manusia-manusia Bali mengalami keruntuhan akibat dianutnya paham pembangunan (developmentalism) secara membabi buta. Kehancuran sawah-sawah di Pidada adalah gambaran hancurnya tanah-tanah Bali serta runtuhnya benteng-benteng nurani manusia-manusia Bali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!