TV Lokal dan nasib Jurnalis

Saya mendapat kesempatan menjadi narasumber dalam diskusi yang dilaksanakan teman-teman Aliansi Jurnalistik Independen Semarang Kamis (24/4). Sebenarnya undangan untuk Baak Isamngoen Notosapoetro (Mbah Mangun), Presiden Komisaris Tv Lokal tempat saya bekerja. Tetapi karena beliau ada satu urusan, saya yang diminta menggantikan. Topiknya tentang TV Lokal Kritik dan Prospeknya dimasa Depan. Nampaknya tema ini diangkat karena ada kegelisahan diantara teman-teman jurnalis yang dipicu pembelian TV lokal oleh pemodal-pemodal kuat dari Jakarta. Dampaknya adalah ketidakjelasan nasib para jurnalis yang bisa dikatakan sudah berjuang sejak awal membangun TV lokal. Kasus seperti ini mungkin tidak hanya terjadi di Semarang tapi disejumlah TV lokal didaerah lain. Para pemodal kuat sedang mengincar TV-TV Lokal untuk dikuasai mengantisipasi adanya ketentuan siaran sistem berjaringan (SSB).

Saya mencoba memahami bagaimana kondisi teman-teman jurnalis, karena meski kini saya lebih banyak ngurusi soal menajemen TV lokal, saya juga tetap seorang jurnalis. Tidak bisa dibantah bahwa banyak TV lokal yang masih "berdarah-darah" karena terjadinya kesenjangan yang banyak anatar pemasukan dan pengeluaran. Biaya operasional yang tinggi tidak sebandaing dengan pendapatan. Ini mengakibatkan owner tv lokal yang nyerah dan berminat menjual tv lokalnya kepada yang mau membeli. Ini untuk menyelamatkan aset yang sudah mereka tanam.

Sebenarnya urusan rugi stasiun televisi, tidak hanya milik tv lokal. TV nasional juga banyak yang rugi, bahkan jumlahnya sampai beratus-ratus milyar. Tetapi yang sangat aneh adalah banyak yang masih tertarik menanamkan modalnya di bisnis penyelenggara siaran televisi. Ketika ini menjadi sebuah realitas, tidak berarti kemudian keberadan tv lokal pantas diragukan eksistensinya. Sebaliknya TV lokal keberadaannya perlu mendapat dukungan dari semua pihak terutama dari para elite-elite lokal. Urusan TV lokal tidak semata-mata bisnis. TV lokal ada untuk bisa menjadi warna lain, ia adalah bentuk perlawanan kultural orang-orang lokal atas berkuasanya TV nasional dilayar kaca.

Banyak yang pesimis akan kehadiran TV lokal, banyak yang memandangnya dengan sebelah mata. Apalagi ketika tampilan TV lokal kalah kelas dibanding tv nasional. Tapi persepsi ini seharusnya bisa digeser pada tataran bahwa TV lokal adalah bentuk dari rasa jengah orang lokal untuk bertarung dengan pemain-pemain penuh modal yang mengendalikan Indonesia ini hanya dari sudut pandang Jakarta. Banyak kekuatan yang bisa digarap oleh tv lokal dengan menggandeng komponen-komponen lokal. Ini yang mungkin saat ini belum bisa dilaksanakan kecuali dibeberapa daerah seperti di Bali. Kuatnya indentitas dan jati diri masyarakat Bali menjadikan media tv lokal di Bali tidak bisa dipandang sebelah mata. Kondisi serupa tidak dimiliki oleh masyarakat didaerah lain salah satunya di Semarang. Hal ini menjadi tantangan yang tidak ringan bagi TV lokal yang masyarakatnya sudah lebih metropolitan.

Ironisnya kesadaran atas ekssistendi TV lokal tidak terbangun ditataran pemilik dan pengelola TV. Sisi Idealisme pendirian tv banyak yang dilupakan tertutupi oleh kepentingan bisnis semata. Akibatnya banyak tv lokal yang tidak siap atas tantangan yang mereka hadapi.Ketika sudah benar-benar kolaps, jalan pintas diambil, tv pun dijual.

Yang paling penting dalam menghadapi tantangan ini adalah kekuatan yang ada didalam tv lokal itu sendiri. Komponen yang ada di TV lokal, pengelola dan karaywan termasuk para jurnalisnya harus kerjasama bahu membahu membangun kekuatan TV lokal. KOmponen internal ini harus menjadi pejuang-pejuang tangguh untuk memberi sesuatu terbaik kepada masyarakat sehingga TV lokalnya menjadi kuat dan dengan demikian masyarakat akan mendukung mereka. Darisinilah kemudian urusan bisnis bisa menjadi lebih lancar.

Komentar

proletarman mengatakan…
Kalau menurut saya sih tv daerah harus mempuyai cirri khas. Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya yang unik. Alahkah baiknya setiap tv daerah berciri khas masing-masing budaya tersebut. Tapi saat ini dalam satu daerah terdapat lebih dari satu channel tv daerah. Jadi klo sudah seperti itu biarlah pasar yang menentukan siapa yang akan survive. Saya condong yang berciri khaslah yang akan tetap survive.

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!