“Eyang” Andaryoko Wisnuprabu, Benarkah Supriyadi?


SPengakuan Andaryoko Wisnuprabu, pria sepuh berusia 89 tahun sebagai Supriyadi-Pemimpin Pemberontakan PETA 63 tahun silam- tak pelak memunculkan kontroversi. Terlepas dari benar atau tidaknya pengakuan Andaryoko, sosoknya di Semarang selama ini lebih dikenal sebagai budayawan. Karena itulah Cakra Semarang TV selama ini cukup dekat dengan --“Eyang” –sebutan kami untuk pria sepuh yang masih aktif mengikuti kegatan budaya ini.

Jauh sebelum dikenalkan sebagai Supriyadi, Eyang Andaryoko telah dibuat figurnya dalam program acara “Sang Penjaga” di Cakra Semarang TV. Dipilihnya sosok Eyang Andaryoko karena kiprahnya sebagai pemerhati budaya Jawa. Ketika pertama kali menyaksikannya di televisi, penampilan Andaryoko memang cukup berbeda. Sangat terlihat tubuhnya yang renta tetapi tersirat kekuatan fisiknya yang melampaui orang-orang seusianya. Selain sebagai budayawan, sosok Eyang Andaryoko sesekali muncul di program berita Cakra Semarang TV sebagai tokoh veteran terutama pada momentum hari-hari bersejarah seperti Hari Pahlawan.

Saya cukup terkejut, ketika suatu malam dibulan Mei lalu, salah satu kolega saya yang menjadi narasumber acara dialog mengajak Eyang Andaryoko. Saya terkejut mengingat kolega saya ini adalah manajer Toko buku dan tidak pernah sedikit pun bicara tentang budaya jawa,. Lantas mengapa tiba-tiba menggandeng seorang budayawan Jawa?

Saat itulah, kawan saya ini menceritakan bahwa Eyang Andaryoko ini adalah sosok Supriyadi yang menyembunyikan jati dirinya. Banyak pertimbangan mengapa hal ini dilakukan terutama menyangkut rasa aman. Selain tentara Jepang, masa Orde Baru juga menyajikan ketakutan jika identitas Eyang Andaryoko sebagai sosok Supriyadi di ungkap. Saya yang mendengar cerita ini menjadi semakin terkejut dan tidak langsung bisa percaya. Hanya sejumlah foto Eyang Andaryoko ketika masih muda memang memiliki kemiripan dengan tokoh Supriyadi. Garis-garis wajah Eyang Andaryoko bahkan menurut saya memang mirip tokoh Supriyadi. Semua ini menambah keyakinan saya meski tidak berarti seratus persen percaya.

Saya sudah menduga, jika suatu saat Eyang Andaryoko mengungkapkan pengakuan sebagai Supriyadi maka kontroversi akan muncul. Benar saja, pasca peluncuran buku “mencari Supriyadi…” karya Bhaskara T Wardaya 9 Agustus lalu, kontroversipun menyeruak. Banyak yang menyebut pengakuan Eyang Andaryoko sebagai bentuk kebohongan publik.

Namun demikian yang menarik adalah sikap Eyang Andaryoko yang nampak tidak begitu ngotot untuk diakui bahwa dirinya memang Supriyadi. Semuanya lalu diserahkan kepada public untuk menilai dan memutuskan. Percaya boleh, tidak juga tidak apa-apa. Hanya satu hal yang ingin dilakukan adalah bagaimana sejarah bangsa Indonesia ini bisa diluruskan karena menurut Eyang ada banyak fakta sejarah yang telah dilupakan. Inilah yang menjadi misinya yang utama. Misi yang membuat Eyang Andaryoko berusaha untuk menjaga fisiknya agar bertahan sehingga ingatannya tetap terjaga. Pengungkapan sejumlah fakta sejarah ini menurutnya akan bisa menolong Indonesia keluar dari keterpurukannya.

Dalam kacamata Ismangoen Notosapoetro, tokoh sepuh masyarakat Jawa Tengah yang juga adalah Komisaris Utama Cakra Semarang TV, tidak begitu penting apakah pengakuan dari Eyang Andaryoko tentang dirinya adalah Supriyadi benar atau tidak. Tetapi yang jauh lebih penting untuk disimak adalah fakta-fakta sejarah yang dibeberkannya. Jika memang ada yang bertentangan dengan apa yang tercatat selama ini dari buku-buku sejarah, maka penelitian baru penting dilakukan. Semuanya adalah untuk memperkaya tafsir sejarah karena kesempurnaan sejarah hanya bisa dilakukan melalui hal ini.

Ketika menghadiri malam puncak HUT Cakra Semarang TV ke-3, saya sempat berbincang dengan Eyang Andaryoko. Saya bertanya, apa rahasianya bisa tetap sehat diusia yang ke 89 tahun? “Sering melakukan perenungan diri melalui tapa” katanya. Eyang mengaku sering bepergian sendiri untuk menyepi mencari kesejatian diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!