Semarang Diterjang Banjir Besar

Minggu siang saya menerima telepon dari Kakak di Bali. "Ini ibu mau bicara", katanya singkat. Lalu terdengar suara ibu saya terbata-bata menangis, saya tersentak kaget,ada apa gerangan? "Nyoman ajak Lika engken di Semarang, sing kena banjir?" katanya. Dari suaranya tertangkap beliau khawatir. "Sing kenken, tiyang baik-baik gen dini, banjir di kota bawah. Tiang tinggal agak di bukit, joh uli banjir," jawab saya menenangkan Ibu. "Di berita di tv, semarang kone banjir gede," kata ibu saya masih dengan nada khwatir.

Memang kadang berita itu membuat persepsi seseorang tidak selalu sama dengan isi berita. Banjir hari itu memang banjir besar. Mungkin ini yang terburuk sejak saya bermukim di kota ini empat tahun lalu. Hujan juga turun deras dari terus menerus. Langit selama tiga hari ini selalu diselimuti mendung tebal dan hujan sambung menyambung. Gambar berita di TV yang menunjukkan banyak rumah di kota semarang yang tenggelam mungkin membuat ibu saya mengkhawatirkan kami yang tinggal di Semarang. Tetapi... ya itu tadi, tidak berarti seluruh kota juga mengalami banjir, karena wilayah yang tergenang kebanyakan berada di kawasan kota bawah.

Semarang memang di bagi dua wilayah besar, satu kota bawah satunya lagi kota atas. Terjadi gejala alam yang cukup mengkhawatirkan di kota Semarang yakni penurunan permukaan tanah yang cukup besar setiap tahunnya pada kawasan Kota Bawah. Tidak mengherankan ada prediksi suatu saat Semarang akan tenggelam. Menurut para ahli, Tanah kota Semarang bagian bawah terbentuk dari proses sedimentasi aliran sungai selama ratusan tahun. Dahulu, tanah yang kini menjadi kota bawah di Semarang adalah lautan atau daerah rawa-rawa. Jadi tidak ada daratan. Karena kawasan pegunungan bagian hulu terus mengirimkan lapisan tanah dalam waktu yang panjang maka dataranpun terbentuk. Kini, dataran yang bisa dikatakan rapuh dan "lembek" inipun mengalami penurunan karena bebannya cukup besar. Kota bagian bawah memang padat penduduk dan bangunan. Analisa ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa di kota semarang bisa terjadi Rob dan mudah diterjang banjir.

Namun demikian, nampaknya faktor kebijakan penggunaan tata ruang juga menjadi bagian penting kerusakan alam dan mempercepat penurunan permukaan tanah. Mungkin ini bukan jadi kelemahan pemerintahan di Kota Semarang, hampir semua kota di Indonesia tidak memiliki konsep dan kebijakan jelas soal pemanfaatan ruang. Apakah mereka tidak tahu mengenai hal ini? Saya yakin mereka semua mengetahui dan menyadari, namun tidak mudah untuk menjadikan pemerintah benar-benar peduli dan mau menerapkan kebijakan yang lebih ketat. Banyak nya kepentingan menjadi hal yang utama.

Hanya saja umumnya yang merasakan derita, mereka yang secara ekonomi kekurangan. Ditengah kehidupan yang belum membaik benar, mereka harus berjuang menghadapi banjir. Belum lagi dampak nanti dikemudian setelah banjir reda. Mungkin penderitaan masih akan panjang. Bencana memang membawa penderitaan panjang. Tetapi tidak mudah untuk mencegahnya karena sulit untuk menentukan siapa yang harusnya paling bertanggungjawab atas hal ini. Pemerintah dan aparat-aparatnya terlalu sibuk mengurusi hal lain. "Embuh.., ngurusi opo!" jawab saya kalau ada yang menanyakan urusan apa yang sedang sibuk diurusi pemerintah saat ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!