Sepak Bola itu Mahal

Terjadi perdebatan panjang ketika rencana penyertaan modal dari Pemkot Semarang di PT.Mahesa Jenar mengemuka. Mungkin karena jumlahnya yang cukup besar yakni Rp 20 Milyar dan ini untuk membayai hidup klub sepak bola bernama PSIS. PT. Mahesa jenar didirikan sebagai perusahaan yang mengelola Klub PSIS yang oleh aturan Liga dunia harus dikelola oleh badan usaha. Tidak ada yang salah pada aturan yang dikeluarkan FIFA ini, karena klub profesional memang harus dikelola secara profesional pula. Yang jadi masalah adalah ketika uang yang digunakan sebagai modal adalah uang yang diperoleh dari perasan keringat rakyat melalui pajak. Terlebih lagi bagi kota Semarang yang RAPBD nya masih memiliki kepincangan dalam pemenuhan anggaran wajib dan pilihan. Anggaran APBD untuk investasi itu urutannya paling terakhir dan haruslah benar-benar bisa menguntungkan atau setidak-tidaknya berguna untuk kesejahteraan masyarakat.
Ini tidak memerlukan pemikiran yang mendalam untuk menegaskan penolakan atas rencana investasi di PT. Mahesa Jenar. Namun urusannya menjadi runyam ketika persoalannya dicampur baurkan dengan masalah rasa, kebanggaan dan urusan politis. Jadilah logika-logika sederhana bahwa investasi untuk perusahaan sepakbola yang tidak jelas untung ruginya ini pantas ditolak menjadi rumit. Aneh bin ajaib, akhirnya DPRD Kota Semarang setelah melalui voting menyetujui anggaran untuk investasi ini. Mungkin para anggota DPRD yang setuju memang tidak lagi memiliki logika dan akal sehat.
Masalah menjadi jauh lebih rumit, karena Direktur PT. Mahesa Jenar ini adalah anak dari sang Walikota Semarang yang juga Ketua Umum PSIS.
Saya berkesempatan memandu talk show nya di Cakra Semarang TV membahas masalah ini. Mas Yoyok, anak sang walikota yang ditunjuk sebagai direktur PT, Mahesa Jenar beragumentasi bahwa apa yang dilakukannya dengan menawarkan kepada Pemkot agar membeli saham PT yang dipimpinan adalah wajar. "Saya hanya ingin agar PSIS diselamatkan" katanya. Diselamatkan agar tidak menjadi milik orang lain yang berarti pindah ke luar kota Semarang. Lisensi di Super Liga adalah sesuatu yang mahal, kata Yoyok yang juga maju sebagai caleg DPRD Jateng dari Partai Demokrat. Banyak yang mengincar mau membeli PSIS.
Sementara Mas Ari Purbono, anggoat DPRD kota Semarang yang getol melontarkan penolakan, beragumentasi bahwa investasi di PT. Mahesa Jenar belum layak karena anggaran untuk itu memang belum pantas dianggarkan. "PDAM Kota Semarang saat ini lebihmembutuhkan suntikan dana," kata Ari Purbono. Usulan penyertaan modal inipun nyaris tak pernah direspon sang Walikota. Tidak jelas apa alasannya. Disisi lain, PSIS sendiri masih punya tunggakan 2,1 milyar rupiah dari pajak yang harusnya dibayar. Bagaimana bicara untung, jika tunggakan pajak saja masih belum dibayar. Khusus masalah pajak ini, Yoyok sukai mengatakan sudah akan membayar. Ini akan dicicil dalam lima tahun kata Yoyok.
Kedua-duanya memang berdiri pada posisi yang wajar untuk saling mempertahankan argumentasinya. Yang menurut saya agak kurang memperhitungkan dengan baik kebijakannya adalah Sang Walikota Semarang yang juga Ketua Umum PSIS. Mungkin saja hati nuraninya sudah tertutup rapat, pikiran akan nasib rakyat juga sudah tidak lagi banyak. Sebagai Bapak dari anaknya sendiri dan juga bagi seluruh Rakyat Kota Semarang, sang Walikota harusnya bijak dan memiliki skala prioritas yang jelas. Atau mungkin kepentingan politis telah begitu kental karena penggemar Sepak Bola jumlahnya tidaklah sedikit dan mereka adalah penyumbang suara yang tidak sedikit.
Lalu saya berpikir, Sepak Bola itu memang mahal. Untuk sebuah kebanggaan akan klub sepak bola, anggaran dana rakyat harus disisihkan. Saya tidak tahu apa dampaknya jika sebuah Klub sepak bola semacam PSIS bisa menjadi juara Indonesia sekalipun. Apakah ia akan menggerakkan roda perekonomian rakyat, atau ia akan mendatangkan ratusan lapangan pekerjaan. Saya hanya bisa berdoa, ya... mudah-mudahan saja memang bisa begitu.

Komentar

pushandaka mengatakan…
Halo lagi Bli Nyoman..
Kali ini saya pengen komentar tentang sepakbola nasional kita. Gpp ya? Hehe!

Sebenernya apa sih yang bikin kok seolah-olah sepakbola itu mahal? Hal ini karena ketidaktahuan para pengurus sepakbola kita tentang arti sepakbola itu sendiri.

Mereka sudah buru-buru berkaca pada sepakbola Eropa, padahal kita blum mampu seperti mereka dari semua segi. Kita blum punya tingkat ekonomi sebaik mereka, kita juga blum punya etos kerja yang profesional seperti mereka.

Profesional yang dijalankan pengurus sepakbola kita tidak tepat. Profesionalisme yang mereka jalankan adalah sebuah industri, yang blum bisa dijalankan di Indonesia. Mereka memburu pemain asing yang mahal harganya, atau mengontrak pemain lokal yang berskala nasional. Semuanya tentu menghabiskan sebagian besar kas klub. Padahal, pemain-pemain itu ndak semuanya layak dihargai mahal. Pemain asing malah banyak yang berkelahi di lapangan. Sementara pemain lokal macam Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, dsb., prestasinya apa sampai dihargai sedemikian mahal?

Akan lebih baik kalo sepakbola kita kembali ke orientasi awal, yaitu pembinaan dan prestasi nasional. Akan lebih bijak dan menguntungkan kalo klub mengutamakan pemain lokal usia muda untuk dikontrak. Selain harganya lebih murah, pemain-pemain itu akan terbentuk menjadi pemain yang memiliki pengalaman bertanding.

Coba lihat saja sekarang, apa sih yang didapat sebuah klub setelah menjadi juara nasional? Nyaris ndak ada, kecuali kesempatan bertanding di tingkat Asia sebagai juara nasional, menghadapi juara negara lain. Tapi, menghadapi juara negara lain, kita sudah buru-buru keok di babak awal. Kan lebih wajar kalo kita keok karena kita membina pemain muda daripada keok dengan amunisi pemain mahal?

Tapi kita ndak bisa sepenuhnya menyalahkan pengurus klub seperti Mas Yoyok, Mas Iwan di Kediri atau Mas Satria di Malang. PSSI sebagai induknya klub-klub itu juga ndak bekerja secara baik. Mereka serakah dan tidak bijak dalam memanfaatkan kas. Misalnya, PSSI mendapat bayaran dari pihak ANTV puluhan bahkan ratusan miliar sebagai pemegang hak siar Liga Super, tapi kok pembagian uang itu 70% PSSI, 30% klub. Untuk apa uang sebanyak itu untuk PSSI? Bahkan, dengan pemasukan sebesar itupun PSSI masih berhutang ke pihak swasta waktu penyelenggaraan Piala Asia 2007. Kan aneh?

PSSI juga memakai uang kasnya (notabene uang negara) untuk mengirimkan sebuah tim junior ke Uruguay, yang nominalnya besar sekali. Apa untungnya? Kenapa uang itu ndak dipakai untuk memperbaiki stadion yang ada, atau membiayai kompetisi level yunior yang lebih baik?

Saya mengamati, pengurus sepakbola kita, baik di PSSI maupun di klub terlalu tergesa-gesa dalam bekerja. Contoh teraktual, PSSI yang udah gregetan ndak bisa meloloskan timnas ke pentas dunia, sekarang malah mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia agar timnas kita otomatis mendapat kesempatan bermain di level dunia. Kan ndak masuk akal sehat tho, Mas, eh.. Bli?

Intinya, sepakbola kita harus kembali ke orientasi awal, yaitu pembinaan yang mengarah pada prestasi. Seiring prestasi yang membaik, keuntungan dari segi finansial akan datang dengan sendirinya. Daripada seperti sekarang, orientasi kita adalah industri yang menuju prestasi. Salah besar itu. Bukan industri yang akan mendatangkan prestasi, tapi prestasi yang akan menciptakan industri.

Begitulah kira-kira komentar saya. Semoga ndak lebih panjang komentarnya daripada tulisan anda. Hehe! Makasih Bli..
winata mengatakan…
Suksma Komennya...
Banyak pemikiran tentang bagaimana memajukan sepakbola Indonesia.

Bos saya di Semarang orangnya sudah sepuh dan beliau pernah menjadikan PSIS juara nasional ditahun 1987 (kalau tidak salah). Dulu PSIS itu bukan apa-apa, trus ditangani beliau, ehh... ternyata bisa juara nasional. Manajemennya tidak rumit, cuma perlu kejujuran dan keseriusan benar-benar untuk sepakbola itu sendiri, bukan urusan lainnya.
Tapi apa lacur... pemikiran Beliau (yang sangat mirip pemikiran Anda juga), tidak pernah digubris. Di Semarang sendiri, pendapat Bos saya ini tidak pernah dipakai.
Masalahnya simple saja, Sepakbola sekarang sudah menjadi urusan politik. Para kepala daerah yang jadi ketua klub sepakbola yang berlaga di Liga Indonesia, lebih berat pada usahanya mengejar kepentingan politik. Kalau klub sepakbolanya dibiayai jor-joran, pastilah mereka akan meraup suara banyak di Pilkada atau pemilihan legislatif karena pendukung sepakbola itu besar.
Begitulah jika politik sudah merambah semua sektor hidup kita. Jangankan olahraga, Agama dan Tuhan saja di Indonesia dipolitisasi.

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!