Demokrasi yang Rapuh dan Kosong

Demokrasi itu memberi ruang pada berbedanya pilihan. Sebagai sebuah sistem, demokrasi bukanlah yang terbaik. Ia mengandung banyak sekali kelemahan. Tetapi sistem inilah yang terbaik diantara yang terburuk. Sejarah dunia telah memenangkan demokrasi ketika ia dihadapkan pada sistem yang lain. Bahkan komunis yang dulunya dianggap sebagai tandingan demokrasi tidak kuat bertahan dan akhirnya jatuh. Tetapi apakah kemudian demokrasi memberi jaminan kesejahteraan kepada rakyat,jawabannya sangatlah tidak pasti.

Negara hanyalah sebuah imaji. Ia hanyalah khayalan dari rakyatnya yang bersepakat untuk hidup dalam sebuah ruang lingkup dengan dasar ruang lingkup hukum yang sama. Tujuan utama dari berdirinya sebuah negara adalah bagaimana kesejahteraan rakyat yang hidup didalamnya bisa tercapai. Prinsip-prinsip keadilan harus ada didalam setiap negara, karena tanpa itu, rasa kesejahteraan juga tidak akan terwujud. Lalu demokrasi dipilih menjadi sistem yang mengatur bagaimana kekuasaan bisa menjamin tercapainya kesejahteraan. Hampir sebagian negara-negara didunia memilih demokrasi atau jika tidak, akan dipaksa untuk memilih sistem ini oleh kekuatan-kekuatan yang memang menghendaki agar seluruh dunia menjadi demokratis.

Karena itulah demokrasi bagaimanapun harusnya memiliki dasar yang kuat terutama dari para pemimpin di masing-masing negara. Demokrasi sebuah negara tanpa dasar yang kuat tidak akan mengarahkan kekuasaan pada kesejahteraan rakyat tetapi pada kesejahteraan golongan tertentu. Disinilah letak persoalan demokrasi ketika ia dihadapkan pada pertanyaan, apakah sistem ini benar-benar menjami pencapian kesejahteraan rakyat di negara tersebut. Karena demikian terbukanya pada pilihan mengingat yang meraih suara terbanyaklah yang pilihannya akan dipakai menjadikan kebenaran juga mengikuti yang menang. Yang kalah akan dipaksa untuk menerima, meski sebenarnya mereka berdiri pada pendirian yang benar.

Ironisnya demokrasi kemudian pada negara berkembang dimana tingkat pendidikan rakyatnya masih sangat kurang seolah-olah dipaksakan. Dengan tingkat kesadaran diri yang rendah, pilihan dalam momentum demokrasi penentuan kekuasaan menjadi sangat tidak memiliki landasan idiil yang kuat. Apalagi ketika kepentingan pragmatis begitu menguasai pikiran dan benak seluruh rakyat sebagai pelaku utama dalam demokrasi. Jadilah kemudian kekuasaan lebih berbau uang ketimbang kepentingan kesejahteraan rakyat. Demokrasi menjadi dipenuhi jargon-jargon kosong yang ramai pada saat-saat kampanye lalu setelah terpilih sibuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri.

Pemilihan presiden langsung saat ini di negeri kitapun memberikan gambaran kepada kita betapa rapuh dan kosongnya demokrasi yang kita laksanakan. Rakyat menentukan pilihannya pada perhitungan-perhitungan yang tidak lagi didasari akal sehat. Terlalu banyak pengaruh oleh rasa yang sayangnya didasari kepentingan jangka pendek. Itulah mengapa pilihan rakyat kepada sosok presiden bisa berubah di detik-detik terakhir. Perubahannyapun didasari pada logika-logika yang kurang relevan. Jika sudah begini, akan sulit berharap demokrasi kita akan mengarahkan kita pada pemimpin yang terbaik. Demokrasi seperti ini juga tidak mampu membimbing pemimpin terpilih untuk benar-benar melaksanakan janji-janji ketika kampanye. Demokrasi kita masih terlalu rapuh dan penuh dengan kehampaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!