Kemenangan SBY dan Pemilih Tanpa Ideologi

Akhirnya pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia terlaksana. Hasil hitung cepat dari lembaga survey menunjukkan perolehan suara pasangang SBY-Boediono jauh mengungguli calon-calon lainnya. Hasil hitung cepat ini bisa menjadi antiklimaks dari sejumlah wacana terutama dari para tim sukses pesaing SBY-Boediono yang berkembang sebelum hari pencontrengan yang menyebut ketiga pasangan capres dan cawapres akan bersaing ketat. Fakta hasil hitung cepat justru menunjukkan bahwa pasangan Mega Pro dan JK Win tidak mampu memberi perlawanan berarti. Dengan terpaut prosentase yang mencapai 30 persen, tentu ini bisa dikatakan sebagai kemenangan mutlak bagi SBY-Boediono.

Hasil survey sejumlah lembaga survey sebelum Pilpres memang menunjukkan, SBY elektabilitas nya sangatlah kuat. Hasil survey tersebut mendapat pandangan negatif dari tim sukses lawan SBY. Bahkan dari pemberitaan di media kita pernah disajikan gambar bagaimana Saiful Mujani dari LSI bersitegang dengan ketua tim Sukses Mega Pro karena menganggap hasil survey LSI sangat tendensius karena dibiayai dari tim sukses SBY.

Pilihan Rakyat Indonesia memang cukup sulit untuk diprediksi. Tidak terlalu jelas, apa sesungguhnya yang menjadi dasar utama seorang pemilih di Indonesia menentukan pilihannya. Sepertinya ada banyak faktor yang bercampur aduk memenuhi pikiran setiap pemilih di Indonesia. Tidak ada yang dominan secara stabil, namun salah satu faktor bisa muncul sebagai yang dominan tergantung situasi dan kondisi. Menjadi pertanyaan penting apakah faktor yang paling dominan itu adalah sesuatu yang ideal atau hanya sekedar sesuatu yang sangat emosional. Misalnya saja, apakah SBY dipilih karena penilaian atas visi dan misinya, kepemimpinannya yang kuat, atau justru hanya karena secara fisik SBY lebih menarik dibanding calon yang lain. Faktor fisik memang tidak dipungkiri menjadi faktor yang cukup dominan meningat dalam masalah ini, SBY jauh unggul dibanding JK atau bahkan Mega. Seorang kawan saya yang menjadi pengajar di sebuah Universitas Negeri di Semarang pernah menanyakan kepada para mahasiswi nya, mengapa lebih condong pilih SBY? jawabannya sangat simple dan menurut saya sangat tidak akademis (padahal yang ditanya mahasiswi yang lekat dengan kultur akademis) yakni karena SBY Ganteng. Jawaban ini tentu tidak bisa diperdebatkan lagi karena memang tidak debatable.

Memang ada banyak analisa tentang faktor kemenangan SBY. Ada yang menyebut bahwa prestasi SBY selama memimpin relatif aman. Tidak ada kebijakan yang secara prinsip melukai hati rakyat. Entah analisa ini bisa diterima atau tidak. Yang jelas kenaikan harga BBM (meski kemudian diturunkan karena harga minyak dunia yang turun) dan masalah Lapindo, adalah dua hal yang sebenarnya layak menjadi tanda tanya besar bagi kepemimpinan SBY. Penegakkan hukum untuk memberantas korupsi juga menjadi masalah yang layak dipertanyakan. Meski tidak melindungi Aulia Pohan yang notabene adalah Besannya, SBY hingga saat ini tidak menurunkan ijin pemeriksaan bagi Walikota Semarang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Ada dugaan ijin tidak dikeluarkan karena Walikota Semarang adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Tengah. Tetapi mungkin kasus di KOta Semarang ini hanya kasus kecil yang gaungnya tidak begitu kuat dan tidak mempengaruhi citra SBY yang cukup serius tangani kasus korupsi. Sebenarnya dalam hal pemberantasan korupsi ini, SBY dalam beberapa hari menjelang pencontrengan menunjukkan ambigunya. Misalnya saja soal pemeriksaan BPKP ke KPK dan masalah pembahasan RUU Tipikor. Tetapi bisa saja isu-isu itu sengaja dilempar oleh lawan-lawan politik SBY. Faktanya, tidak ada pengaruh singnifikan bagi SBY yang meraup suar terbanyak berdasarkan hasil hitung cepat Lembaga-lembaga Survey.

Sosok SBY memang tidak mencitrakan diri membawa perubahan. Dengan Slogan Lanjutkan!, jelas bahwa SBY akan melanjutkan kebijakan-kebijakan selam ini. Bedanya dulu SBY didampingi JK,kini didampingi Boediono. Publik tentu akan menyimpang banyak pertanyaan, peran dari Boediono apakah akan seperti JK atau hanya sekedar ban serep yang lebih banyak mewakili sang presiden jika berhalangan hadir di sebuah acara seremonial. Yang jelas ada banyak persoalan yang harusnya segera mendapatkan penyelesaian. Kemiskinan, pengangguran, harga-harga kebutuhan pokok yang terus melambung adalah persoalan yang harus segera diselesaikan.

Jika memang rakyat Indonesia telah menentukan pilihannya, kita sekarang hanya bisa berharap SBY menjadi presiden yang baik. Seperti lagu "Manusia 1/2 Dewa" Iwan Fals yang menyerukan kepada presiden yang baru untuk segera menurunkan harga-harga dan jika ini bisa dilakukan, maka SBY layak diangkat sebagai manusia 1/2 Dewa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!