Mbah Surip di Negeri yang Pemimpinnya Korup

Segala sesuatu didunia ini yang pernah dilahirkan atau diciptakan maka ia akan pasti menemui kematiannya. Karena itulah semua manusia pasti akan mati karena semua manusia pernah dilahirkan. Kadang kematian itu yang penuh misteri karena tidak jelas kapan akan menjelang. Seperti berita siang hari ini Selasa (4 Agustus 2009) "Mbah Surip, Meninggal". Mengejutkan memang, karena Mbah Surip beberapa waktu belakangan namanya begitu terkenal gara-gara lagu "Tak Gendong". Lewat facebook saya melihat ada banyak ucapan duka cita lengkap dengan kalimat-kalimat pengiringnya. Tapi ada satu yang membuat saya cukup tertarik. Teman saya yang sedang menyelesaikan pendidikan Doktoralnya di Surabaya menulis kurang lebih begini"Orang Baik itu memang lebih cepat mati. Tetapi kenapa orang yang menjengkelkan tidak mati-mati".

Saya sepakat kalau teman saya ini mengatakan Mbah Surip orang baek, meski saya tidak begitu mengenalnya. Tetapi dari beberapa tulisan di media menunjukkan bagaimana kualitas Mbah Surip sebagai sosok selebritis yang namanya melejit bak roket gara-gara lagu "Tak Gendong". Sederhana dan apa adanya. Ketenaran tidak membuatnya menjadi sosok yang harus bersikap tinggi hati. Ia mengatakan dirinya sedang belajar untuk salah, karena belajar baik sudahlah biasa. Ungkapannya " Ilove u Full" bagi saya juga penuh makna, bagaimana cinta itu harusnya bisa menjadi sebuah semangat untuk meluluhkan semua perbedaan. Semua orang pantas dicintai, dan itu cinta yang sepenuh hati (full). Bayangkan saja jika semua orang mau seperti Mbah Surip dan mengatakan dengan sungguh-sungguh "Ilove u full", betapa indahnya dunia ini.

Dalam konteks ke Indonesiaan kini, perlu menjadi perhatian bagi para pemimpin negeri ini untuk berkata"Ilove u full" pada semua rakyat yang dipimpinnya. Bukan hanya kepada teman, kelompoknya dan orang-orang disekitarnya saja. Mencintai rakyat sepenuh hati, maka pemimpin akan menjadikan jabatannya sebagai sebuah amanah untuk benar-benar demi rakyat. Mencintai rakyat dengan sungguh-sungguh akan menghindarkan diri para pemimpin dari keinginan untuk korupsi. Betapa indah Indonesia ini jika korupsi tidak menjadi cara pejabat untuk memperkaya dirinya. Betapa sejahtera rakyat jika Indonesia ini bebas dari segala bentuk korupsi. Dan itu hanya bisa terwujud jika pemimpin yang diberi kepercayaan rakyat benar-benar sepenuh hati mencintai rakyatnya.

Tetapi memang benar kata teman saya di facbook tadi, "Orang baik itu memang cepat mati, sementara orang jahat tidak mati-mati". Lalu di Indonesia, bagaimana musisi-musisi jumawa, bermoral bejat, bertampang manis tetapi prilakunya seperti binatang dan fasih bernyanyi religius, selalu hidupnya segar bugar. Dan yang terpenting tetap dicintai dan dipuja para penggemarnya. Sementara Mbah Surip atau misal Gombloh tidak berumur panjang. Begitulah mungkin hidup dan misteri Tuhan atas kehidupan manusia.

Lanjut ke soal pejabat-pejabat korup di Indonesia bermuka tembok bertengger dengan jumawa menjadikan rakyat hanyalah alat untuk melegalkan kekuasaannya yang korup. Mereka tidak akan mati-mati bahkan mungkin akan mati lama. Apalagi ditengah rakyat yang seperti kebingungan membedakan kebenaran sejati dan kebenaran cuma pura-pura, maka pejabat-pejabat korup ini ibarat hidup di sorga dunia.

Ya...Semoga Mbah Surip bisa tenang di alam sana. Dan gema "I Love U PULL" akan menjadi semboyan banyak orang dan menjadi spirit, bagaimana Indonesia ini bisa berubah menjadi lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!