Pahlawan, Penjahat dan Teroris di Negara Demokrasi

Siang ini saya kedatangan seorang tamu dari Salatiga. Pak Suwarto namanya, usia 60 tahun seorang tokoh Masyarakat di Salatiga. Datang untuk menyampaikan informasi bahwa beliau dengan sanggar Merah Putih nya akan menyelenggarakan lomba lagu-lagu perjuangan. Jelas Pak Suwarto adalah seorang seniman karena sering membuat naskah drama, monolog, tembang macopatan dan banyak lagi yang laennya. Namun percakapan yang menarik buat saya adalah saat beliau bercerita tentang bagaimana sebenarnya persoalan tentang Tuhan adalah sesuatu yang universal. Bahwa persepsi manusialah yang kemudian membuat kemasan menjadi berbeda-beda sesuai dengan batas pemikiran manusia itu sendiri.

Kemasan-kemasan ini kemudian menjadi agama-agama yang berbeda-beda. Persepsi manusia memang bisa melahirkan berbagai macam pandangan dan keyakinan. Manusia bebas memiliki persepsi yang melahirkan keyakinan yang berbeda pula. Namun ketika persepsi ini dipaksakan kepada pihak lain yang jelas-jelas memiliki persepsi sendiri, ketika itulah terjadi benturan-benturan termasuk juga konflik-konflik.

Setelah Pak Suwarto pulang, saya tidak melanjutkan persoalan persepsi yang berbeda dikaitkan dengan agama melainkan dengan persoalan Pahlawan dan Penjahat. Saya memikirkan ini karena persoalan terorisme kembali mencuat setelah rangkaian berbagai kejadian mulai dari pengeboman di Mega Kuningan sampai dengan penggrebekan di Temanggung. Saya berpikir adakah semua dari kita sepakat menyebut para pelaku pengeboman sebagai penjahat atau malah sebaliknya sebagai pahlawan. Jawabannya mungkin tergantung dari persepsi kita dalam memandang tindakan mereka untuk kepentingan apa dan siapa. Tetapi saya meyakini bahwa ada sedikit orang yang jelas-jelas menganggap pelaku pengeboman di Mega Kuningan adalah pahlawan yang selanjutnya bisa merangsang mereka untuk melakukan hal serupa.

Lalu saya berpikir tentang bagaimana media berusaha mengekspose persoalan terorisme ini dengan sebesar-besarnya. Karena media memang harus independen, tidak jarang semua pandangan boleh masuk. Antara yang memang sepakat bahwa pengeboman adalah tindakan yang tidak manusiawi apapun alasannya dan pandangan bahwa apa yang dilakukan adalah bentuk dari sebuah perlawanan yang janjinya sangat "menggiurkan" yakni MASUK SURGA. Ini berarti tampilnya sosok pelaku pengeboman di media, bisa jadi dianggap penjahat bagi sebagian orang dan sebagian lainnya adalah Pahlawan. Sulit memang memandang persoalan ini dengan sikap yang tegas, terlebih lagi Indonesia saat ini adalah negara demokrasi yang bahkan cenderung sangat liberal. Siapa saja boleh berpikiran apa saja. Dengan mantra Demokrasi Indonesia kemudian menjadi sebuah negara yang bentuknya boleh saja digugat dan diganti sesuai kehendak mayoritas.

Memang demokrasi membebaskan siapa saja untuk memiliki persepsi apa saja. Kita boleh memandang siapa saja bisa sebagai pahlawan atau penjahat. Kita bebas menjadikan siapa saja sebagai ilham untuk tindakan-tindakan kita. Jangankan tindakan mengebom yang lengkap dengan janji Indah masuk surga, tindakan percobaan bunuh diri dengan memanjat tower menara saja mudah di tiru oleh orang lain begitu televisi menyebar berita soal percobaan bunuh diri serupa.

Pertanyaan di benak saya kemudian menjalar kemana-mana. Satu pertanyaan yang terbesar adalah bagaimana kemudian tindakan terorisme bisa dilenyapkan dari Indonesia. Dengan segala kondisi saat ini, sepertinya tidak ada harapan bahwa terorisme akan bisa dilenyapkan. Demokrasi yang cenderung liberal dinegara yang kepemimpinan nasionalnya lemah plus dengan tingginya angka kemiskinan dan kebodohan, tidak pelak lagi Indonesia adalah surga bagi para teroris. Maka satu-satunya jawaban yang mungkin masih bisa menjadi solusi adalah bagaimana kepemimpinan nasional dikuatkan untuk berdiri diatas konsesus bersama 17 Agustus 1945 yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber Pancasila. Hanya saja lagi-lagi persoalan sistem Demokrasi yang cenderung liberal melemahkan kepemimpinan nasional seperti yang diharapkan. Mereka terlalu takut tidak berkuasa lagi, karena kekuasaan di sistem Demokrasi ditentukan oleh keinginan mayoritas melalui pemilu. Kepemimpinan nasional tidak canggung-canggung memilih menjadi penjahat daripada menjadi pahlawan bagi rakyatnya demi memuaskan keinginan untuk berkuasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!