Gus Dur, Demokrasi dan Nasib NKRI

Semenjak menjadi wartawan, seingat saya ada 2 peristiwa atau berita yang membuat saya tak kuasa menahan rasa sedih sampai meneteskan air mata. Pertama saat Bom di Paddys Cafe Kuta yang menewaskan ratusan orang. Yang kedua, saat mendengar berita Gus Dur Meninggal. Ketika berita Bom meledak, bukan kematian yang membuat saya paling bersedih, melainkan rasa kekhawatiran yang besar akan masa depan masyarakat Bali setelah Bom mengingat pariwisata akan tersungkur yang berarti pula, ekonomi Bali terpukul hebat. Apa yang akan dilakukan orang Bali tanpa pariwisata? itulah yang membuat saya sangat khawatir.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali merasakan hal yang sama. Meninggalnya Gus Dur Rabu, 30 Desember 2009 menimbulkan rasa khawatir yang kuat di pikiran saya. Khawatir tentang nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Khawatir tidak akan ada lagi tokoh agama yang memiliki jutaan pengikut setia dan sangat kharismatik yang siap menjadi pembela terdepan NKRI sepeninggal Gus Dur? Apakah ada tokoh agama mayoritas yang akan dengan tegas berani mengatakan bahwa Pancasila adalah sesuatu yang final bagi NKRI? Saya masih meragukan bahwa tokoh-tokoh agama mayoritas yang ada saat ini akan seberani Gus Dur. Saya melihat ada kecendrungan yang kuat bahwa kepentingan politis lebih kuat saat ini, sehingga ideologi atau dasar negara NKRI adalah sesuatu yang bagi para tokoh agama yang ada saat ini bisa diabaikan. Inilah resiko dari sistem Demokrasi.

Saya menggarisbawahi faktor demokrasi karena Gus Dur adalah sosok yang sangat kuat membela demokrasi di tanah air Indonesia. Penghargaan sebagai Bapak Demokrasi dari sebuah LSM memberi kita gambaran bahwa Gus Dur menginginkan Demokrasi Tegak di NKRI. Tetapi demokrasi yang diperjuangkan Gus Dur kini justru telah berubah menjadi ancaman terbesar bagi NKRI. Atas nama demokrasi, kekuatan mayoritas merasa pantas untuk menonjolkan diri, dan menganggap bahwa diluar mereka dengan keyakinan yang berbeda adalah sesuatu yang kecil yang bisa dianggap tidak ada. Demokrasi yang diperjuangkan Gus Dur sepertinya dimasa depan akan menjadi ancaman terbesar atas keberadaan Pancasila. Terlebih lagi, perilaku elite politik yang kini menguasai negara adalah elite yang sepertinya tidak pernah peduli bahkan sudah melupakan apa sesungguhnya cita-cita para pendiri bangsa. Di pikiran kaum elite yang ada kini hanyalah kepentingan kekuasaan untuk materi bukan untuk kepentingan bangsa dan negara.

Ironis memang. Harapan bahwa demokrasi akan menjadikan masa depan bangsa lebih baik, kini justru menjadi ancaman. Faktor kualitas kepemimpinan adalah kunci dari semua persoalan ini. Kedangakalan dalam berpikir para pemimpin menjebak mereka untuk berpikir pragmatis. Demi kekuasaan, hal-hal prinsip dilupakan atau sengaja dikesampingkan. Dan kekuasaan di sebuah sistem demokrasi hanya bisa diraup dengan dukungan politis yang besar. Dukungan politis yang besar bisa didapat dengan mudah jika para politisi bermain di wilayah keyakinan/agama.

Gus Dur adalah tokoh yang bisa melampaui kedangkalan berpikir para politisi yang ada saat ini. Sesuatu yang prinsip adalah hal yang sangat pantas diperjuangkan mengalahkan urusan kekuasaan. Itulah yang telah dilakukan Gus Dur selama hidup beliau. Menjadi pelindung bagi semua, siapa saja anak-anak bangsa Indonesia. Keyakinan Gus Dur ini tidak diungkapkan hanya didalam hati atau bisik-bisik di forum tertutup. Tetapi Gus Dur mengemukannya di Publik dengan terbuka, bahwa keberagaman di Indonesia haruslah dihargai dihormati dan dijunjung tinggi oleh siapa saja.

Saya memimpikan bahwa akan lahir tokoh seperti Gus Dur. Saya punya mimpi bahwa presiden RI bisa bersikap seperti Gus Dur dalam membela pluralisme. Presiden akan berani berada di garda terdepan pembela Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Presiden yang berani menindak, siapapun yang dengan terang-terangan menunjukkan sikap ekslusif seolah-olah menguasai kebenaran terlebih lagi berani mengangkangi hukum negara. Tetapi... apakah kita memiliki presiden seperti itu saat ini? Saya meragukannya. Saya melihat presiden RI saat ini adalah politisi yang telah terjebak pada demokrasi yang mengabaikan soal moralitas dan cita-cita pendiri bangsa. Semoga saja Gus Dur telah menitipkan pesan khusus kepada Presiden RI saat ini karena Gus Dur meninggal saat sang presiden menjenguk Gus Dur di rumah Sakit. Smeoga presiden segera sadar bahwa NKRI adalah sesuatu yang layak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh melampaui kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!