Kekalahan AM, Kemenangan Anas dan Politik Angkat Citra SBY

“Kemenangan Anas Urbaningrum adalah mutlak Kemenangan SBY untuk meningkatkan citra SBY”


Kemenangan Anas Urbaningrum dalam persaingan menjadi Ketua DPP Partai Demokrat menurut saya adalah bagian dari strategi politik SBY. Sang ketua Dewan Pembina partai berlambang Bintang Segitiga ini menjadi dalang dari semua pentas pra sampai pasca kongres II Partai Demokrat (PD). Semuanya dilakukan SBY demi apa yang selalu di utamakannya selama ini yakni, pencitraan. Kemenangan Anas dan kekalahan Andi Malarangeng, semuanya diatur melalui tangan-tangan “gaib” SBY melalui pengelabuan-pengelabuan dan taktik seolah-olah. Bahwa sesungguhnya Anas adalah putra magkota SBY, sang pangeran yang dipersiapkan untuk memegang nakhoda PD.

Sementara itu Andi Malarangeng (AM) merupakan kamuflase yang dirancang untuk mengalihkan perhatian public, memberi gambaran semu dan menggiring opini khalayak bahwa SBY ada di belakangnya. Keikut sertaan Edie Baskoro (Ibas) sebagai tim pemenangan AM, adalah bagian penting dari kamuflase yang telah dirancang untuk menguatkan kesan, bahwa SBY mendukung AM. Demikian juga dengan demikian gencar dan masifnya promosi AM melalui Iklan TV di semua media cetak dan juga dibaliho-baliho yang tersebar di Ibu kota dan Bandung sebagai tempat pelaksanaan kongres.

Semuanya berhasil menggiring pemikiran banyak orang bahwa jagonya SBY adalah AM. Dan dengan demikian kuatnya pengaruh SBY dalam PD, tentu saja tidak ada apapun yang bisa menghalangi AM menjadi Ketua DPP PD. Terlebih lagi, selama ini sangat kuat terbentuk image bahwa hampir semua partai Politik di Indonesia demikian feodalistiknya dan tunduk kepada seorang figure. Citra seperti ini dalam kacamata politik modern tentu saja tidak sehat. Sebuah partai yang tunduk pada hokum feodalistik dengan satu tokoh sentral akan dianggap partai terbelakang, tidak modern dan tidak siap menjadi pemenang dalam pertarungan pemily. Jika SBY dengan PD menunjukkan citra yang sama yakni tunduk pada system partai yang tersentral hanya pada sosok SBY, maka Partai Demokrat akan mencitrakan diri sebagai partai politik yang tidak modern.

Citra inilah yang sedang dengan keras dipatahkan oleh SBY. Maka sebuah drama pun diatur dengan alur cerita yang dipenuhi pengalihan perhatian dan penggiringan opini. Seolah-olah SBY ada di belakang AM dan Anas Urbaningrum bukanlah siapa-siapa dibanding AM. Tidak banyak iklan Anas kalau mau dikatakan tidak ada sama sekali. Sesekali Anas muncul dalam wawancara di TV dan hanya menyatakan diri siap menjadi Calon Ketua Umum DPP PD dan yakin akan menang.

Lalu, AM pun tersingkir bahkan di putaran pertama. Bagian pertama alur drama pengangkatan Citra SBY dimulai. Mediapun banyak yang sepertinya terkejut dan terheran-heran lalu mengatakan bahwa “inikah senjakala Politik SBY?”. Menurut saya ini adalah respon yang memang diharapkan dari drama babak pertama berjudul Mengangkat Citra SBY. Ternyata bahwa sosok SBY bukanlah penentu di PD. Partai yang didirikan SBY adalah partai yang tidak menempatkan seorang figure sentral, melainkan aprtai yang benar-benar demokratis. Kekuatan masing-masing pengurus DPC adalah bebas menentukan pilihannya tanpa harus tunduk pada sosok figur SBY.

Drama berlanjut pada terpilihnya Anas dengan selisih suara yang tidak terlalu mencolok dengan rivalnya Marzuki Alie. Ini kembali menguatkan bahwa PD adalah partai yang demokratis, bukan tunduk pada satu figure. Permainan drama yang cantik dan memberi efek baik pada citra PD. Dan Citra SBY pun menurut saya di masyrakat luas justru menjadi jauh lebih terangkat sebagai sosok yang tidak menggunakan kekuasaannya untuk memaksakan keinginan di tubuh PD. Ini pencitraan yang jauh beda dengan Soeharto dengan Golkarnya atau Megawati dengan PDI P nya. Labih jauh taktik kamuflase AM juga sekaligus mengangat citra PD sebagai sebuah partai politik yang demokratis, modern, tidak ada money politics dan jauh dari partai politik berdasarkan trah. Ini akan menjadi modal besar PD di pertarungan 2014, saat dimana SBY memang tidak akan lagi menjadi magnet kuat memenangkan PD dalam pemilu legislative karena tidak lagi bisa maju sebagai calon Presiden.

Tetapi apakah ketika ini dikaitkan dengan keberadaan Sekretariat Bersama Koalisi yang akan mengubah konstitusi Negara melalui amandemen ke-5 dengan memperbolehkan presiden menjabat lebih dari 2 periode buikan isapan jempol, maka SBY telah mengawali strart dengan citra yang baik. SBY memang lekat dengan politik pencitraan, dan orang-orang dibelakangnya nampaknya sangat paham bagaimana mempermainkan strategi dan taktik untuk memenangkan apa yang disebut dengan pencitraan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!