SBY, Komunikator yang Buruk?

Berulangkali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuat banyak pihak salah paham tentang pernyataan atau statementnya di media. Yang terbaru adalah kesalahpahaman terkait masalah “Demokrasi VS Monarki” menyangkut keistimewaan Jogjakarta. Ketika seorang presiden sebuah negara membuat rakyatnya berulangkali mengalami kesalahpahaman, tentu ada persoalan mendasar yang dialami SBY sebagai seorang komunikator.

Dalam ilmu komunikasi, setidaknya ada 4 komponen penting yang memegang peranan penting bagi efektivitas penyampaian sebuah pesan yakni komunikator (sender), pesan itu sendiri (massage), saluran yang dipergunakan (channel) dan penerima pesan (komunikan/receiver). Ketidakberesan pada salah satu komponen tersebut tentu akan membawa pengaruh pada kegagalan penyampaian makna yang dimaksudkan oleh si komunikator

Pada kasus kesalahpahaman yang dibuat oleh SBY maka kita bisa melihat bahwa ada persoalan yang tidak beres pada komponen komunikator. Sebagai seorang penyampai pesan atau komunikator SBY, mengalami ketidakberesan dalam proses pengolahan berbagai informasi agar menjadi pesan yang tepat. Proses pengolahan informasi untuk menjadi pesan dipengaruhi oleh banyak faktor yang ada dalam diri komunikator.

Menurut Ruben&Stewart untuk menjadi komunikator yang bisa menyampaikan pesan dengan baik kepada komunikan, pastinya harus menerapkan syarat-syarat antara lain: kedekatan dengan khalayak, mempunyai kesamaan dan daya tarik sosial dan fisik, kesamaan dengan komunikan, dikenal kredibilitasnya dan otoritasnya.

Dari sejumlah syarat tersebut, maka SBY sebenarnya telah memenuhi hampir keseluruhannya kecuali pada syarat pertama yakni kedekatannya dengan khalayak. Dalam hal ini tentu yang dimaksud adalah pemahaman yang mendalam tentang siapa yang sedang diajak berkomunikasi.

Sebagai seorang pejabat Negara, SBY dalam setiap statement publiknya pastilah akan disampaikan kepada masyarakat luas sebagai penerima pesan. Fakta bahwa masyarakat Indonesia terfragmentasi dalam berbagai tingkatan status ekonomi, pendidikan dan latar belakang social yang berbeda wajb dipahami oleh SBY sebagai seorang presiden terkait posisinya sebagai seorang komunikator.

Jika sebagai seorang komunikator, SBY memahami siapa komunikannya tentu ia tak akan menyampaikan pesan yang tidak dapat ditangkap dengan baik oleh pihak penerima pesan. Jadi disini pemahaman tentang rakyat Indonesia menjadi factor yang penting. Kalau kemudian terjadi terlalu banyak kesalahpahaman, maka SBY bisa dikatakan kurang memahami rakyat Indonesia secara utuh. Sangatlah ironis seorang presiden dengan masa jabatan hamper enam tahun lamanya, terkesan kurang memahami rakyatnya. Dampaknya SBY menjadi seorang komunikator yang buruk.



Penerima Penghargaan

Namun demikian, fakta lain yang memebuktikan SBY pernah mendapat penghargaan sebagai Presiden Komunikator Terbaik Dunia dari praktisi komunikasi korporat dan publik yang tergabung dalam the Public Affairs Asia, Februari lalu, tentu akan memancing kita untuk memperdebatkan pernyataan yang menyebut kalau SBY adalah seorang komunikator yang buruk. Disamping itu, kemenangan SBY dalam pemilihan langsung 2009 lalu dengan sangat telak juga membuktikan bahwa komunikasi yang dibangun SBY dengan tim suksesnya tidaklah diragukan lagi kehandalannya. Lalu bagaimana menjelaskan lebih lanjut tentang persoalan kesalahpahaman dari komunikasi yang dilakukan SBY selama ini?

Stephen W. Littlejohn seorang teoritisi ilmu komunikasi menyatakan bahwa seorang komunikator dipengaruhi oleh berbagai macam aspek. Tinjauan sosiopsikologis menjadi pendekatan yang paling objektif untuk memahami seorang komunikator. Sosiopsikologis lebih berkaitan dengan keadaan yang ada dalam diri seorang komunikator, baik itu terkait watak, sifat bawaan termasuk faktor-faktor biologis.

Ketika SBY menjadi seoorang komunikator yang berhadapan langsung dengan berbagai peristiwa atau isu, maka SBY akan cenderung membawa aspek sosiopsikologisnya. Ini berarti watak dan sifat bawaaan lahir SBY akan menjadi faktor kunci untuk menentukan apakah SBY akan menjadi seorang komunikator yang baik atau buruk. Kalau kemudian terjadi banyak kesalahpahaman, maka posisi SBY sebagai komunikator tidaklah bisa dikatakan baik. Ini berarti ada persoalan pada faktor sosiopsikologis seorang SBY.

Situasi yang berbeda dihadapi ketika SBY sedang melakukan kampanye politik pemilihan presiden. Peran dari kerja tim jauh lebih berperan daripada aspek sosiopsikologis seorang SBY. Disini peran dari tim sukseslah yang menentukan apakah SBY akan menjadi seorang komunikator yang baik atau buruk. Penerimaan penghargaan sebagai komunikator politik yang baik sesungguhnya bukanlah mencerminkan pribadi SBY yang asli, melainkan hanyalah hasil polesan yang membentuk citra “seolah-olah”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!