Agama, adat istiadat dan Moralitas

Apa ukuran moralitas seseorang? Mereka yang mencuri dan menyakiti orang lain jelas tak bermoral. Tapi jika yang menjadi ukuran moralitas adalah bagaimana cara mereka berpakaian atau penampilan fisiknya, maka soal moralitas menjadi hal yang dengan mudah bisa mengundang perdebatan. Apakah seseorang yang memakai koteka di tanah Papua tidak bermoral dibanding cara berpakaian di Aceh?. Ataukah para penyanyi dangdut bergoyang seksi di panggung jauh tidak bermoral dibandingkan para pejabat yang tampil alim selalu berpakaian rapi tapi suka makan uang rakyat? Dalam masyarakat kita, ukuran moral sering menggunakan nilai-nilai agama dan adat istiadat. Pertanyaannya adalah bisakah keduanya dipergunakan sebagai instrument yang tepat untuk mengukur moralitas orang lain? Agama dan adat isitiadat adalah bentukan manusia. Keduanya sebenarnya tidak memiliki nilai yang esensial karena keduanya tercipta dari proses-proses pembentukan pikiran-pikiran manusia yang berlangsung terus menerus. Artinya baik agama maupun adat istiadat hanyalah bentukan hasil berpikir manusia. Hanya karena proses pembentukannya yang berlangsung lama dan terus menerus sehingga menjadi seolah-olah keduanya adalah natural. Agama misalnya selalu disebutkan sebagai sabda langsung dari Tuhan. Padahal tak satupun manusia di muka bumi ini benar-benar pernah melihat Tuhan dengan mata Kepalanya sendiri. Tak pernah ada benar-benar manusia berbicara face to face dengan Tuhan. Jika benar ada manusia pernah melihat Tuhan, maka pertanyaannya adalah apakah Tuhan itu laki-laki atau perempuan? Namun jawaban atas pertanyaan ini bagi kaum agamawan tertentu akan dikatakan bahwa Tuhan itu pastilah laki-laki. Ya, jawaban ini juga bisa menjadi bagian dari pembentukan soal narasi mengenai agama yang dominan di lakukan oleh laki-laki. Bukankah hampir sebagian besar nabi dari semua agama adalah laki-laki? Demikian pula dengan adat istiadat yang merupakan hasil dari pembentukan pemikiran manusia yang hidup berkelompok. Adat istiadat adalah hasil dari kesepatakan bersama baik dengan cara-cara damai maupun dipaksakan. Jika agama itu sangat beragam, maka adat istiadat jauh lebih beragam lagi. Hampir setiap manusia yang hidup berkelompok punya adat istiadat yang berbeda-beda. Sangat sering adat istiadat satu bertentangan dengan adat istiadat lainnya. Menyadari agama dan adat istiadat itu adalah hanya bentukan belaka dan tak punya nilai esensial, maka tentu menjadi sangat rapuh jika ukuran moralitas seseorang ditentukan dari ukuran-ukuran agama maupun adat istiadat. Berpakaian tertutup ke tempat Ibadah mungkin dianggap merupakan keharusan bagi agama dan adat istiadat tertentu. Tetapi bagi agama dan adat istiadat lainnya, bisa jadi cara berpakaian bukanlah menjadi hal yang esensial. Ditahun 1930 an misalnya, perempuan Bali masih terlihat biasa mengusung sesaji ke pura dengan bertelanjang dada. Atau bagi orang-orang adat di tanah Papua, ketika mereka melakukan ritual adat memuja penciptnya, masih berpakaian serba terbuka. Namun perkembangan arus informasi yang menyebar cepat dan kuat terutama dari kekuatan-kekuatan yang lebih besar, membawa narasi-narasi besar yang kemudian seolah-olah menjadi acuan umum mengenai soal-soal moralitas. Agama dan adat istiadat dari kelompok-kelompok dominan “memaksakan” pembentukan-pembentukan standar soal moralitas. Agama dan adat istiadat kelompok dominan ini, memposisikan agama dan adat istiadat dari minoritas sebagai sesuatu yang salah sehingga harus disesuaikan. Dalam cara-cara yang jauh lebih keras, maka tidak tanggung-tanggung penganut agama yang berbeda misalnya akan dengan mudah di sebut kafir. Bahwa hanya ada satu Tuhan yang mahabenar dan itu adalah tuhan dari kelompok agama yang dominan. Kelompok agama dan adat istiadat yang dominan membangun narasi-narasi besar dan lebih jauh lagi menetapkan soal-soal yang salah dan benar, yang pantas dan tidak pantas. Ironisnya yang sering terjadi adalah pendangkalan pada soal pemaknaan soal moralitas yang hanya sebatas penampilan saja. Moralitas ditentukan dari hal-hal yang bersifat artfisial, penampilan fisik belaka. Maka sebenarnya menjadi menarik untuk kita menyimak bait-bait lagu dari Iwan Fals : “Masalah moral, masalah akhlak Biar kami cari sendiri… Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu Peraturan yang tegas yang kami mau”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!