Lady Gaga dan Perlawanan Terhadap Penguasaan Tubuh Perempuan

Lady Gaga, artis yang mengundang kontroversi. Rencananya menggelar konser di Indonesia mendapat penolakan dari sejumlah organisasi keagamaan. Polisi pun tak berani ambil resiko dan berencana tidak mengeluarkan ijin, padahal tiket konser konon telah terjual habis. Alasan yang mengemuka karena Lady Gaga rentan merusak moralitas bangsa. Selain itu lirik lagunya juga disebutkan mengajarkan hal-hal yang tidak baik. Adapula yang menyebut tarian Lady Gaga di atas panggung adalah tarian pemujaan setan. Memang sosok Lady Gaga dengan mudah mengundang daya tarik. Penampilannya yang nyeleneh membuat siapapun akan bertanya-tanya siapa Lady Gaga ini. Belum lagi jika menyimak video-video klip nya yang dibuat berbeda dibandingkan penyanyi-penyanyi lainnya. Lady Gaga berhasil membius khalayak di seluruh dunia dengan kenyelenehannya dan sekaligus keunikan yang ditampilkannya. Saya tidak begitu fasih mendengarkan lagu-lagu berbahasa inggris. Jadi apa saja isi lirik lagu Lady Gaga, saya tidak begitu berani memberi pendapat. Meski demikian saya pernah mendengar jika lirik lagu Lady Gaga mengandung pesan-pesan kesetaraan gender. Jika menyimak pada gaya berpakaian yang dipilih oleh Lady Gaga, saya agak sepakat dengan penilaian ini. Ada pesan kuat yang ingin disampaikan oleh Lady Gaga dengan penampilan dan gayanya berpakaian, dan itu mengarah pada perlawanan atas sistem-sistem patriakal yang selama ini begitu menjajah.Lady Gaga menggunakan tubuhnya untuk menunjukkan perlawanannya yang kuat. Dominasi Maskulinitas, memang bermula dari pembedaan yang dilakukan atas tubuh pria dan wanita. Peng –oposisi-an secara biner atas bentuk tubuh manusia, antara pria dan wanita telah menjadi dasar utama bagi budaya dan peradaban yang memposisikan pria lebih berkuasa dibandingkan wanita. Bourdieu dalam bukunya Dominasi Maskulin mengulas bagaimana bentuk jenis kelamin pria dan wanita kemudian dijadikan dasar pembedaan. Penis sebagai sesuatu yang mencuat keatas di persepsikan sebagai kekuatan sementara bentuk vagina yang menjorok kedalam dipersepsikan sebagai sesuatu yang mengarah ke bawah (kelemahan). Pada proses selanjutnya, kemudian pembedaan secara oposisi biner ini berlanjut pada gerak-gerak tubuh, dimana laki-laki lebih kencang, kekar dan agresif sementara wanita, lambat, lembut dan pasif. Dari sinilah pula muncul pembedaan gerak tubuh dimana jika wanita identik dengan gerak tubuh yang melambai. Lihat saja jika seorang pria jika ingin menampilkan sisi feminine nya atau diminta memerankan sosok seorang perempuan, maka gerak tubuh utama yang harus ditampilkan adalah tangan yang melambai. Dominasi maskulinitas yang bermula dari bentuk tubuh ini merembet jauh pada penguasaan kaum laki-laki atas wanita. Bahwa laki-laki adalah penguasa yang menentukan apa yang pantas dan tidak pantas bagi wanita. Wanita menjadi sub ordinat dari dominasi laki-laki yang kemudian melahirkan ketidakadilan. Bagi kaum feminis, budaya patriaki adalah wujud ketidakadilan yang menjadi sumber dari ketidakadilan yang terjadi disemua aspek kehidupan manusia di muka bumi ini. Dan salah satu wujud dari ketidakadilan bagi wanita yang dilakukan oleh laki-laki adalah penguasaan tubuh perempuan dimana tubuh perempuan hanya dianggap sebagai pelampiasan hasrat-hasrat seksual laki-laki. Hampir dalam semua aspek kehidupan manusia nampak begitu terang benderang bagaimana penguasaan atas tubuh perempuan sehingga hanya dianggap sebatas obyek. Tubuh perempuan seakan-akan bukanlah milik perempuan itu sendiri melainkan menjadi milik laki-laki. Pandangan kaum laki-lakilah yang menentukan harus seperti apa tubuh wanita itu. Kapitalisme kemudian ikut berperan besar dalam mendukung lestarinya pandangan dominan maskulin ini dengan memanfaat tubuh perempuan sebagai obyek untuk mengakumulasi modal. Lihat saja bagaimana begitu banyak produk-produk yang dijual dengan menggunakan tubuh perempuan sebagai obyeknya. Hampir dalam setiap iklan, selalu saja muncul tubuh perempuan dalam berbagai wujudnya. Bahkan dalam iklan yang dibuat untuk produk yang dikonsumsi kaum perempuan pun, justru perempuan dimunculkan sebagai obyek fantasi kaum pria. Misalnya saja iklan parfum untuk kaum perempuan, maka iklannya akan menampilkan wanita yang menggunakan parfum tersebut akan menjadi obyek seksual kaum laki-laki. Iklan Ponds versi “bermain catur” bisa dipergunakan sebagai contoh. Bahwa laki-laki selalu menang melawan perempuan dalam permainan catur. Namun setelah perempuan memakai krim pemutih dan tampil cantik, si lelaki terpana dan akhirnya kalah main catur. Jadi kemenangan perempuan bukan karena otaknya yang cerdas, melainkan karena wajahnya yang lebih putih dan cantik. Lady Gaga menubuhkan perlawanannya terhadap hegemoni maskulinitas. Artinya ia menjadikan tubuhnya sendiri sebagai wujud dari perlawanan itu. Bahwa laki-laki, yang memuja tubuh-tubuh perempuan yang seksi sesungguhnya sedang memuja sesuatu yang absurd. Keanehan-keanehan dalam cara berpakaian Lady Gaga menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak yang penuh untuk menentukan seperti apa sebenarnya mereka harus berpenampilan. Lady Gaga tidak bisa dikatakan mewakili tubuh perempuan yang lazim dipuja laki-laki. Lady Gaga memang seksi, tetapi penampilannya bukan hal yang bisa diterima dengan cara-cara berpikir konvensional. Banyak hal yang coba ditabrak oleh Lady Gaga. Pakem-pakem berpakaian ala wannita yang mewujudkan fantasi laki-laki dilawan dengan cara yang sangat keras bahkan kontroversial. LIhat saja video klip yang dibuat dan bagaimana Lady Gaga muncul dalam setiap video klip tersebut. Jarang Lady Gaga tampil dengan keanggunan dan wajahnya yang bersolek cantik seperti putrid-puti dalam dongeng. Saya bukanlah orang yang bisa menilai soal moralitas. Jadi, jika dikaitkan dengan masalah apakah Lady Gaga dan apa yang dilakukannya bisa menjadi perusak moral, saya menjadi sulit memberi jawaban. Hanya saya ingin mengatakan bahwa Lady Gaga adalah sosok yang memiliki keinginan yang kuat untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu kepada masyarakat dunia ini. Ia sadar betul dengan apa yang dilakukannya melalui penampilan, lirik lagu atau video klipnya. Ada banyak pesan penting yang ingin ia sampaikan lewat tubuhnya. Dan bagi saya pesan itu adalah pesan mengenai “segeralah akhiri penindasan terhadap kaum wanita, agar tercipta keadilan dimuka bumi ini”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!