Melawan Hoax, Kedepankan Cara Berpikir Skeptis


Kandungan ketidakbenaran atau ketidaksesuaian dengan fakta dalam konten-konten di media sosial makin hari semakin semakin tinggi. Umum menyebutnya sebagai konten Hoax. Tidak kurang pemerintah dalam hal ini presiden RI Jokowi merasa gerah dan mengeluarkan pernyataan bahwa konten hoax haruslah diperangi. UU ITE hasil revisi memberikan kewenangan kepada negara (melalui aparaturnya) untuk menutup akun-akun atau sumber-sumber yang menyebarluaskan konten Hoax.

Menarik untuk mencermati konten-konten hoax terutama karena dampak/efeknya yang dinilai sudah sangat mengkhawatirkan. Bicara mengenai efek media, maka kita tidak hanya sekedar membicarakan akibat-akibat melainkan juga mengenai komponen-komponen dasar dari komunikasi khususnya komunikasi massa. Ini berarti kita tidak bicara soal isi/konten saja tetapi juga sumber (komunikator) dan yang paling penting adalah penerima/receiver atau disebut juga komunikan.
Penelitian mengenai efek media sesungguhnya memposisikan komunikan (penerima pesan) sebagai komponen yang sangat vital. Dalam teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory) misalnya, diyakini bahwa komunikan itu bersifat pasif, sehingga apapun yang disampaikan sebagai isi/konten komunikasi akan diterima begitu saja. Sama dengan Teori Peluru (Bullet Theory of Communication), dimana komunikan dianggap tidak bisa menghindar dari akibat dari sebuah komunikasi seperti yang diinginkan oleh komunikator. Teori-teori yang menampatkan komunikan pada posisi pasif alias hanya menerima saja dan “memakan” mentah-mentah isi informasi, secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa komunikan itu kurang cerdas (bodoh) sehingga mudah dibodoh-bodohi.
Berseberangan dengan teori-teori komunikasi tersebut, penelitian komunikasi seperti Uses and Gratifications Theory, menempatkan komunikan sebagai pihak yang aktif. Bahwa komunikan sesungguhnya memiliki kecerdasan untuk memilah dan memilih informasi yang akan dikonsumsi. Ini berarti bahwa apa yang menjadi maksud dari komunikator (sumber) informasi tidak dapat begitu saja diterima sama persis oleh komunikan (penerima pesan). Hal ini tidak lepas realitas bahwa pengkonsumsian setiap informasi selalu melalui proses kecerdasan dari komunikan.
Kembali kepada berita-berita/konten-konten hoax. Penyikapannya sebenarnya sangatlah mudah karena terletak pada kecerdasan komunikan. Efek dari konten hoax tidaklah berarti apa-apa, jika komunikan dapat melakukan proses memilah dan memilih setiap informasi yang diterimanya. Selama komunikan dapat berlaku secara aktif menggunakan kecerdasannya, tentu dengan sangat mudah dapat menangkal efek-efek destruktif dari konten hoax.
Perlawanan paling efektif bagi konten hoax ada pada keaktifan dan kecerdasan komunikan. Salah satu ciri komunikan yang cerdas adalah selalu bersikap dan berfikir skeptis terhadap semua informasi. Skeptisme adalah bentuk ketidakmudahan untuk percaya atas apa yang dilihat dan dibaca dari sebuah konten. Ini berarti, komunikan haruslah selalu mengedepankan rasa tidak mudah percaya.
Dengan demikian, pemerintah sebenarnya tidak perlu terlalu merepotkan diri untuk menangkal konten hoax. Karena membiarkan pemerintah dengan kekuasaannya melakukan seleksi atau bahkan menutup/memblokir sumber dan konten di media sosial, sangat rentan bagi masa depan demokrasi. Kebebasan berbicara, berpendapat dan berekspresi adalah nyawa demokrasi. Hal ini bisa lenyap, jika kekuasaan dibiarkan leluasa melakukan upaya pembatasan.
Jadi... semuanya kembali kepada diri kita sendiri. Kita ingin menjadi komunikan yang pasif dan percaya begitu saja sehingga mudah dibodohi? Ataukah menjadi komunikan yang cerdas, selalu skeptis dan tidak mudah percaya sehingga tidak mudah dibodoh-bodohi?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!