Akhir Perjalanan Juragan "Candu"

Perjalanan panjang Pak Harto akhirnya usai. Media televisi memenuhi tayangannya dengan berita-berita meninggalnya sang diktator berwajah penuh welas asih ini. Ulasan-ulasan dari media-media televisi banyak memberi gambaran tentang jasa besar Pak Harto selama hidupnya. Seorang ibu dari rakyat biasa yang diwawancarai menyatakan bahwa Pak Harto adalah seorang pemimpin yang lebih berhasil dibanding presiden lainnya di Indonesia. Pengalaman empirisnya seperti menuntunnya untuk berkata bahwa hidup dijaman Pak Harto jadi Presiden, semuanya lebih mudah. Dan memang ungkapan ibu ini benar. Saat Pak Harto Berkuasa, tidak pernah ada misalnya berita tentang rakyat yang susah. Negeri ini yang bisa dilihat dari media massa ketika itu adalah Indonesia yang Gemah Ripah Loh Jinawi.

Saya tidak bisa berdebat jika menyimak kata-kata ibu itu. Namun ada sesuatu yang meliuk-liuk dipikiran saya. Sungguhkah semua itu adalah kebenaran yang nyata atau hanya sekedar ilusi?? Tidakkah Hidup bangsa ini ketika Pak Harto menjadi presiden tidak lebih hidup didunia indah tetapi dibangun diatas dasar yang rapuh??

Saya jadi berpikir bahwa ketika orde baru sebagian rakyat sebenarnya ibarat hidup dalam pengaruh candu yang memabukkan.Pak Harto adalah penyebar "candu" yang biaya untuk memenuhi kebutuhan "candu" itu berasal dari hutang luar negeri. Sebagian besar rakyat dimasa orde baru dibuat "mabuk Kepayang" dengan banyak kemudahan hidup, dimanjakan dan tidak pernah dibiarkan untuk melihat realitas sesungguhnya. Rakyat tidak pernah dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup itu haruslah dijalankan dengan penuh perjuangan. Misalnya harga beras dan BBM dibuat murah lalu nilai tukar rupiah dibuat tinggi. PAdahal sesungguhnya harga beras itu mahal sama dengan BBM. Nilai rupiah juga tidak setinggi kenyataannya karena fondasi ekonomi Indonesia dibangun diatas bertumpuknya hutang luar negeri. Rakyat Indonesia, seperti anak yang dimanja orangtuanya. Rakyat Indonesia dibiarkan hidup di negeri dongeng, dimana dongeng-dongeng itu dicekoki terus menerus melalui media massa ketika itu.

Mereka yang mencoba untuk tetap sadar, tidak mau terpengaruh "candu" dibungkam oleh antek-antek Pak Harto. Banyak dari mereka yang nyawanya dihabisi, dibantai bahakn tidak sedikit yang disiksa sebelum dilenyapkan. Jumlah mereka mungkin mencapai ratusan bahkan ribuan nyawa.

Ibu yang diwawancari stasiun TV itu mungkin terlalu lama dibawah pengaruh "Candu" bikinan Pak Harto. Karena itulah ketika sang Bandar "Candu" itu tutup usia, ada semacam kesedihan dan cerita betapa indahnya hidup dibawah pengaruh "candu" itu meluncur melalui bibirnya. IBu itu mungkin tidak pernah melihat langsung bagaimana banyak rakyat Indonesia hidupnya dibuat susah, dirampas hak hidupnya bahkan sampai kehilangan nyawa mereka.

Saya sedih, karena candu itu ternyata hingga kini masih demikian kuatnya mencengkram pikiran rakyat Indonesia. Bahkan cerita hidup di masa "candu" itu kini mulai diturunkan kepada anak-anak mereka. Mereka akan bercerita, bahwa dulu,hiduplah seorang pemimpin yang hidupnya untuk membahagiakan rakyatnya. Tetapi kini pemimpin itu telah tiada. Cerita buruk tentang pemimpin itu yang telah membunuh ribuan rakyat Indonesia yang menentangnya dianggap sebagai sebuah kewajaran, karena mengatasnamakan kepentingan yang lebih besar. Cerita orang yang terlalu lama mabuk "candu" tentu adalah cerita tentang nikmatnya hidup dialam mimpi. Ironisnya mungkin cerita orang-orang mabuk "candu" ini sepertinya akan dipercaya anak cucu mereka.

Saya lalu bertanya dimanakah sekarang orang-orang yang masih waras dinegeri ini? Mereka yang masih bisa melihat segala sesuatunya dengan jernih dan tak terkontaminasi "candu". Mungkin mereka masih ada, tetapi bukan lagi dikenal sebagai orang waras karena ketika orang waras berada dikerumunan orang gila, siapakah sebenarnya akan lebih dicap Gila?? Dan sang pemimpin para pe"candu" itu, ia yang telah meracuni pikiran-pikiran rakyat Indonesia dan ia yang telah melemahkan aliran darah keperkasaan Burung Garuda ditubuh orang Indonesia, ada yang mengusulkan diberi gelar Pahlawan Nasional. Ah...Sayapun menjadi semakin sedih.

Komentar

Agung Wardana mengatakan…
Jika mengungkapkan kebenaran dikatakan menghujat. maka yang sedang dilarang adalah kebenaran itu sendiri...

damai,

Agung Wardana
Nyoman Winardi mengatakan…
Wah keren bli. Baru saya liat blog ne bli puk. Tulisan ne bagus - bagus sekali :)

Saya link blog-nya bli ya :)
ngurah beni setiawan mengatakan…
bagus...
cara penulisan dan bertutur yang indah.
saya terkesan membaca, baik konten dan cara bertutur bli...

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!