Tempat Ibadah, Rumah atau Penjara Tuhan?

Indonesia adalah bangsa yang relegius. Itulah yang sering diucapkan orang-orang kita, setidak-tidaknya dari para pemuka agama. Salah satu bukti fisik yang bisa dilihat adalah tersebarnya ratusan ribu rumah ibadah dari semua agama di tanah nusantara ini. Tetapi meski demikian, bangsa Indonesia menunjukkan kelakukan yang luar biasa bertolak belakang dengan manusia yang religius. Salah satunya adalah sifatnya yang sarakoh. Sarakoh ini tingkatannya, menurut Mbah Mangun-kawan diskusi saya di TV- lebih tinggi dari serakah.Uang rakyat dikorupsi habis-habisan oleh para pejabat negara dan para abdi negara (baca PNS). Alhasil, Indonesia termasuk dalam dijajaran negara elit paling korup didunia. Ini prilaku luar biasa dari bangsa yang tidak satupun penduduknya tidak memeluk agama atau tidak percaya pada Tuhan.

Kembali ke soal rumah Ibadah dari berbagai agama yang tersebar luas di bumi nusantara ini. Saya tidak mengetahui persis, apa yang ada dibenak orang Indonesia ketika membangun rumah ibadah agamanya masing-masing. Apakah mereka ingin agar Tuhan punya rumah yang bagus sehingga dengan nyaman berstana di sana,atau justru malah ingin agar Tuhan bisa dipenjarakan sehingga perbuatannya yang melanggar hukum agama tidak diuatk-atik Tuhan. Tetapi kalau dipikir-pikir, jikapun benar yang ada dibenak orang Indonesia adalah yang pertama yakni membangun rumah Ibadah agar TUhan punya rumah yang nyaman, jangan-jangan maksud akhirnya sama juga yakni agar TUhan diam saja di Rumah Ibadah itu lalu lupa ngontrol perbuatan manusia yang busuk-busuk. Saya berhrap dugaan saya ini salah, sebab kalau benar demikian, betapa dangkalnya pandangan kita tentang Ketuhanan.

Namun, realitasnya sangat menyulitkan kita mendapatkan gambaran pasti tentang pola pikir manusia-manusia Indonesia itu. Ritual semua agama di sini saya yakin sudah sangat OK. Banyak yang berdoa sambil menangis, seakan-akan begitu khusyuknya. Ratusan jutapun tak tanggung-tanggung dihabiskan untuk menggelar sebuah ritual. Prilaku ini jelas menunjukkan orang Indonesia tunduk hormat sama Tuhan-nya. Manusia Indonesia mengakui Tuhan itu maha Agung, Maha Besar dan tidak satupun didunia ini yang luput dari Tuhan. Atas dasar hal ini, fakta bahwa Indonesia bangsa paling korup didunia semakin sulit diterima menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Bangsa religius yang korup? Mana mungkin bisa terjadi? Tetapi inilah yang harus diterima sebagai kenyataan. Korupsi hanya satu saja dari banyak dosa massal yang dilakukan bangsa ini. Tingginya tingkat kekerasan terhadap sesama manusia bahkan yang dilakukan atas nama Agama dan membela Tuhan, adalah fakta lain betapa bangsa religius ini juga bisa menjadi begitu keji.

Mbah Mangun mengatakan, "Bangsa ini sudah terlalu sakit dan nekat, karena Tuhan saja sudah berani ditipu," katanya. Manusia apa yang berani menipu Tuhan, sementara ia mengaku sangat berTuhan? Manusia Indonesia adalah manusia yang paradoksal. Satu sisi mengakui dirinya A tetapi perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan A melainkan X, Y bahkan Z. Tidak ada satu kesatuan antara pikiran, ucapan dan tindakkannya. Ironisnya prilaku ini dicontohkan para pemimpinnya, para elite politiknya sampai para elite agamanya.

Msaih kata Mbah Mangun, Manusia Indonesia mungkin menyembah Tuhan yang ada di hadapannya, tetapi sekaligus juga membiarkan tengkuknnya diduduki oleh Iblis. Ketika sudah tidak lagi dirumah Ibadah, iblis masih tetap dibiarkan menunggangi tengkuknya bahkan dibiarkan menyusup kedalam relung otak mereka. Ataukah sebenarnya kita lebih baik mengakui bahwa Tuhan itu sebenarnya sudah Mati? Kitalah yang telah membunuh Nya beramai-ramai. Tetapi kemudian kita kembali menghidupkan Nya, membunuh Nya lagi dan begitu seterusnya tergantung kepentingan pribadi kita. Semua ini karena kita sudah sulit membedakan atau membaurkan urusan agama dan politik, mengaburkan kepentingan pribadi diatas nama Tuhan. Sehingga banyak dari kita yang fasih menyebut nama besar Tuhan dihadapan manusia lain, tetapi kemudian mengkhianati Nya dibelakang. Seperti indahnya rumah-rumah ibadah yang kita bangun, megah mentereng, tetapi kita membakar mati Tuhan di dalam hati dan nurani kita sendiri.

Komentar

Anonim mengatakan…
Tergantung bagaimana kita mendefinisikan Tuhan. Di Indonesia kan Tuhan identik dengan mahasempurna dan maha-maha lainnya. Jadi Tuhan itu Maha baik sekaligus Maha Jahat. Jadi sangat logis juga klo banyak orang Indonesia yang menyembah Tuhan yang didefinisikan oleh dirinya itu akan menjadi koruptor ulung. Hehehehehe bukan berarti saya ateis lho…
Anonim mengatakan…
membaca seluruh blog, cukup bagus

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!