Kepada Siapa Tuhan Memberi Anugerah

Sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin sering hinggap di relung pikiran kita adalah "Bagaimana Standard Tuhan Menurunkan Anugerahnya?". Ini tentu saja bagi mereka yang mempercayai adanya Tuhan. Sebagai negeri yang sering mengaku-ngaku yang religius Nama Tuhan mungkin sering disebut orang-orang Indonesia. Tidak hanya didalam doa-doa yang mereka panjatkan, tetapi juga diaksi-aksi kekerasan terhadap manusia-manusia lainnya yang dianggap tidak berjalan pada jalan yang mereka yakini. Akan ada beberapa pertanyaan ketika kita menyaksikan hal ini, "Bagaimana mungkin Tuhan dilibatkan saat kekerasan dilakukan?,Bukankah Tuhan itu penuh dengan Cinta kasih?".

Mengharap berkah dan anugerah serta janji mendapatkan Kapling di Surga berdampingan dengan Tuhan memang membuat manusia rela melakukan apa saja. Apa saja, termasuk memukul, menggertak, menyebar ketakutan, menendang bahkan melakukan pembunuhan massal. Janji Surga juga tidak segan-segan membuat para pejabat rela melakukan korupsi. Tentu saja yang sudah pasti adalah melakukan doa-doa ritual keagamaan yang sedemikian taatnya.

Tetapi yang Unik di negeri ini adalah tidak pernah banyak terdengar bahwa janji surga akan diberikan kepada mereka yang mau bekerja keras, disiplin, jujur, pantang menyerah dan yang paling penting jiwanya dipenuhi cinta kasih. Janji Sorga lebih sering di umbar untuk mereka yang taat beribadah,rajin menggelar ritual dan khusyuk berdoa. Yang mengerikan adalah janji sorga tertinggi konon akan diberikan kepada mereka yang rela melakukan kekerasan bahkan menghilangkan nyawa manusia lainnya atas nama pembelaan Tuhan.

Kita tidak pernah mau membuka mata kita lebar-lebar untuk realitas bahwa Tuhan hanyalah memberi anugrahnya kepada mereka yang mau bekerja keras, ulet, jujur, disiplin dan berbuat tindakan nyata. Negara-negara maju adalah contoh nyata bagaimana anugrah Tuhan tidak akan ragu diturunkan jika semua hidup yang dilakoni adalah perbuatan yang tidak mengenal lelah untuk kebaikan dan bukan hanya sekedar khusyuk dalam doa dan ritual. Toh begitu, banyak dari kita menyebut bangsa-bangsa itu adalah pendosa karena tidak memiliki keyakinan yang sama dengan kita. Bagaimana mungkin bangsa pendosa dianugerahkan Tuhan kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera daripada kita yang tanahnya dipenuhi rumah ibadah dan hampir tiap detik waktu diisi doa yang khusyuk?

Mari, tanyakan pada diri sendiri dan jawablah dengan jujur, Kepada siapa sesungguhnya Tuhan lebih senang menurunkan Anugerahnya?

Komentar

wiek mengatakan…
ulasan yang menarik. Pertanyaan yang sederhana namun membutuhkan perenungan yang dalam. Bukan sekedar jawabannya, tapi proses mencari jawaban itulah yang mengesankan :-)
Salam kenal

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!