Dimanakah Sebaiknya Pejabat Ber-rumah?

Kemewahan seringkali membuat manusia silau, lupa daratan. Merasa di hormati dan selalu dijadikan yang utama akan menjadikan mereka yang menikmatinya enggan beranjak dari posisi itu. Apalagi terbuka lebar kesempatan untuk menambah terus pundit-pundi kekayaan. Itulah yang membuat para pejabat Negara mulai dari lurah sampai presiden sangat enggan meninggalkan atau menanggalkan jabatannya.

Tidak ada yang bisa diharap banyak dari para pejabat yang begitu mencintai kekuasaannya. Selalu ingin mendapat fasilitas dan hidupnya selalu nyaman. Pejabat yang berumah di rumah jabatannya yang megah dan mewah hanyalah akan membuat penghuninya lupa pada makna perjuangan. Mereka sangat mungkin untuk terlena, lupa pada arah, tidak tahu sedang berada dimana dan apa sesungguhnya kewajiban mereka. Pejabat yang menikmati banyak fasilitas mulai dari mobil dinas, ruang kerja yang dipenuhi barang mewah sampai dengan kursi kerjanya yang empuk cenderung akan menjadi pengkhianat. Mengkhianati hati nurani nya dan menempatkan kepentingan rakyat banyak dinomor urut sekian prioritas kerjanya.

Jika demikian dimana sebaiknya pejabat itu ber-rumah?. Ia haruslah ber-rumah di tengah-tengah masyrakatnya yang termiskin. Ia harus tinggal di rumah gubuk yang reot jika itulah rumah tempat tinggal rakyatnya yang paling miskin di daerah yang dipimpinnya. Kalau ini dianggap terlalu ekstrim sehingga tidak mungkin untuk dilakukan sang pejabat, maka setidak-tidaknya ia harus selalu hidup dalam kesederhanaan. Menggunakan mobil dinas seada yang bisa dibiayai oleh Negara. Berkantor diruang yang penuh kesederhanaan, tiada barang mewah didalamnya. Kursi kerjanya tidakklah empuk sekali, hanya dilapisi busa secukupnya agar pantat sang pejabt tidak terlalu panas. Perlukah ia di kawal kemana ia pergi menggunakan mobil dinasnya? Tidak! Itulah jawaban yang pasti. Bahkan rumah dinasnya juga mungkin tidak perlu terlalu dijaga Satpol PP. Jika ia adalah pejabat yang dicintai rakyatnya, maka rakyat yang mencintainya lah yang akan melindunginya.

Pejabat di Indonesia juga harusnya jauh dari menggunakan pakaiannya yang mewah. Ia cukup menggunakan pakaian sepantasnya dan sesuai kebutuhan. Kemewahan tidak pantas bagi pejabat Indonesia karena negeri ini terlalu miskin untuk membiayai kehidupan mereka. Jika mereka benar-benar pejabat, maka ia harusnya adalah benar-benar pelayan rakyat. Bukan sebaliknya, minta selalu diperhatikan dan dilayani rakyat apalagi minta untuk selalu dihormati.

Jadi dimanakah Pejabat itu harus ber-rumah, maka ia haruslah ber-rumah di hati nuraninya yang paling dalam. Ia harus jujur pada rakyat yang dipimpinnya dan tidak enggan berada disekeliling mereka, rakyat nya yang paling miskin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!