Tahun politik yang Masih Tanpa Logika

Tahun ini adalah tahun politik dimana ritual agama bernama Demokrasi akan digelar. Hiruk pikuk aksi acrobat para politisi sudah akan segera dimulai. Jalanan dan setiap pohon perindang dipinggir jalan harus ikut merasakan bagaimana nafsu para politisi untuk merebut simpati.

Politik dalam definisinya yang paling sederhana adalah cara untuk menggapai sebuah tujuan. Politik dalam tataran idealisme harusnya membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua. Jika ada politik yang membawa kesengsaraan atau kesejahteraan hanya pada sekelompok atau segelintir orang, maka dipastikan ada yang salah dari politik tersebut.

Demikian pula dengan demokrasi. Harusnya yang dituju adalah kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Tetapi nampaknya demokrasi bisa menjadi tidak seindah harapan. Demokrasi justru lebih sering hanya sekedar alat bagi langgengnya kekuasaan yang menyengsarakan rakyat. Lha kok bisa?

Tidak mudah untuk mengurai sisi gelap demokrasi karena ia merupakan pengertian yang menyimpan banyak sekali variable yang berkelindan, terjalin rumit dan mungkin juga membingungkan. Demokrasi sebagai sebuah teori tidak akan bisa diaplikasikan pada dua atau lebih Negara lalu hasilnya akan sama persis. Politik di Negara A akan berbeda dengan demokrasi di Negara B meski dua-duanya menganut system demokrasi.

Jalinan rumit variable-variabel demokrasi mungkin bisa menjadi jauh lebih sederhana dan efektif jika manusia yang terlibat didalamnya memiliki tingkat intelektualitas yang memadai. Demokrasi itu menjadikan logika-logika sehat sebagai dasarnya yang paling utama. Demokrasi akan benar-benar efektive jika manusia yang menjalaninya memang bertindak atas dasar logika yang sehat. Ini berarti emosional harus dikesampingkan. Rasa sungkan, ewuh pakewuh, primodialisme, feodalisme dan kegemaran akan mistik harus disingkirkan jauh-jauh. Selama manusia-manusia yang terlibat dalam system demokrasi masih terbelit pada sikap dan pola piker tersebut, maka demokrasi mungkin hanya akan menjadi jalan menuju bencana.

Nasib politik juga tidak jauh beda ditangan manusia-manusia yang lemah logika dan akal sehatnya. Ego untuk mengenyam kekuasaan lalu menjadikan mereka sosok yang hanya menjadikan politik sebagai alat untuk memenuhi keinginan kekuasaannya.

Harusnya jika memang ingin politik dan demokrasi berujung pada kesejahteraan, maka tidak ada kata lain, kedepankan logika dan akal sehat kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!