Manusia itu Terlalu Sombong

Manusia telah menjadi ancaman bagi planet Bumi, karena itulah tumbuh-tumbuhan dan tanaman yang ada disekitar manusia melakukan proses kimiawi untuk melakukan pertahanan dan menyerang manusia. Proses kimiawi ini menghasilkan semacam gas beracun yang membuat manusia melakukan tindakan bunuh diri. Efeknya mengerikan, banyak manusia kemudian tiba-tiba melompat dari gedung yang tinggi, menusuk lehernya dengan jepit rambut, menggantung diri dan menembak kepalanya dengan pistol. Ketakutanpun menyebar dan seperti biasa pada awalnya ini dianggap sebagai bentuk dari aksi terorisme. Belakangan manusia baru sadar bahwa tumbuh-tumbuhanlah yang telah menjadi penyebab semua ini. Serangan tumbuh-tumbuhan ini berlangsung dalam 1 hari dana puncaknya terjadi pada pagi hari.

Itulah cerita dari Film "The Happening" yang saya tonton beberapa malam yang lalu melalui VCD. Mengisi waktu senggang saya di rumah, menonton film melalui VCD sewaan adalah pilihan saya dan istri tercinta. Maklum saya hanya tinggal berdua di Semarang jauh dari keluarga besar yang ada di Bali.

Saya tertarik dengan cerita film yang diproduksi orang-orang Amerika ini. Bahwa Tumbuh-tumbuhan juga bisa melakukan serangan kepada manusia dan harus berujung pada kematian manusia. Pesan yang saya tangkap bagaimana manusia terlalu merasa diri berkuasa atas alam, planet bumi sehingga mengabaikan hak hidup mahluk lain termasuk tumbuh-tumbuhan/tanaman. Pohon-pohon besar di hutan ditebangi tanpa memikirkan bahwa pohon-pohon itu juga memiliki kekuatan hidup didalamnya. Manusia sudah terlalu jumawa sehingga tidak bisa menempatkan kesejajaran dirinya dengan mahluk lain. Hewan dan tumbuhan hanya dianggap sesuatu yang bisa diperlakukan sesuka manusia.

Memang terlalu jauh kalau memikirkan apakah mungkin pohon-pohon memiliki kemampuan berproses secara kimiawi untuk menghasilkan Gas yang bisa melawan dan menyerang manusia. Tetapi lagi-lagi ini pesan penting yang harus membuat kita semua merenung dan mengkoreksi bagaimana prilaku kita kepada mahluk lain disekitar kita saat ini.

Mungkin para tetua kita dimasa lampau lebih mampu berpikir dengan bijak dan memiliki kesadaran bahwa manusia harus hidup seimbang dan sejajar dengan mahluk lainnya di planet bumi ini. Karena itulah rasa hormat mereka kepada hewan dan tumbuhan sangatlah tinggi. Jika di Bali pohon-pohon besar begitu dikeramatkan dan dianggap memiliki roh sehingga harus dihormati, mungkin ini didasari atas pemikiran yang bijak, bahwa pohon-pohon besar tersebut memiliki andil besar dalam kehidupan manusia. Bukan apa-apa, ini wujud nyata bagaimana manusia tidak hanya meminta kepada alam tetapi juga memberikan sesuatu dan itu adalah rasa hormat yang mendalam. Hutan dalam kepercayaan manusia Indonesia dimasa lalu adalah tempat yang keramat. Didalamnya ada kekuatan lain yang berkuasa sehingga manusia tidak bisa begitu saja masuk lalu merusak dan menebangi pohon-pohon.

Sayangnya dengan modernisasi, semua itu kemudian lenyap karena dengan mudah dicap sebagai tahayul. Musyrik, demikian orang-orang dari agama tertentu bersuara kencang. Tuduhan-tuduhan ini lalu menjadikan rasa hormat kepada alam jauh berkurang. Tidak dianggap penting lagi menghargai tanah, tanaman dan juga mahluk lainnya, toh mereka hanya diam mau diperlakukan seperti apa. Tetapi kita tidak sadar bahwa hilangnya rasa hormat kita kepada alam berujung pada perlawanan balik dari alam itu sendiri. Bencana alam banjir dan tanah longsor adalah realitas paling kuat untuk dikemukakan. Lagi-lagi sayangnya manusia tidak juga sadar, rasa hormat pada alam itu kini telah benar-benar lenyap.

Jika memang sangat sulit menyadarkan manusia, saya lebih senang jika alam menyadarkan dengan caranya sendiri, termasuk salah satunya melalui tindakan natural dimana pohon-pohon mengeluarkan gas yang menyerang saraf manusia sehingga manusia membunuh dirinya sendiri. Tetapi menarik dicermati di bagian akhir cerita Film "The Happening" ini, dimana manusia tidak juga mau sadar bahwa ini adalah peringatan dari alam, karena tanaman/tumbuhan menggangap manusia ancaman. "Peringatan? jika memang benar mengapa hanya di suatu daerah saja? kenapa tidak diseluruh belahan dunia. Kalau ini terjadi diseluruh negeri mungkin baru kita percaya bahwa ini peringatan alam", kata presenter di tv dalam film tersebut dengan jumawa. Ia menjawab pernyataan dari seorang ilmuwan yang mengemukakan teorinya bahwa kejadian-kejadian tersebut merupakan bentuk perlawan dari tumbuh-tumbuhan kepada manusia. Ah.. manusia memang kadang sangat bodoh, tidak mampu membaca tanda-tanda alam karena terlalu sombong dengan pikiran-pikiran mereka.

Komentar

bud mengatakan…
nice movie

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!