Negeri Para Maling

Negeri ini sudah menjadi negerinya para maling. Yang tidak jadi maling tidak akan bisa menjadi penguasa. Tetapi kalau ada maling yang tertangkap, para maling lainnya tidak akan merasa ketakutan, tetapi malah tertawa lalu tetap saja menjadi maling. Bisa-bisa mereka akan menjadi maling yang lebih lihai, lebih terhormat dan lebih berkuasa. Ya... inilah Negara Kesatuan Para Maling. Bagaimana menggambarkan negeri yang bisa disebut negeri Maling ini?

Seperti tulisan di koran tentang sebuah daerah di kota Semarang yang penghuninya rata-rata para Gali alias preman. Kalau ada salah satu dari mereka yang tertangkap, maka para tetangga dan warga lainnya akan ramai-ramai menertawakannya. Yang ditangkap itu dianggap hanyalah sedang apes sehingga bisa tertangkap. Jadi teman-teman satu kampung nya yang juga gali alias preman bukannnya merasa takut dan berhenti jadi preman ketika ada teman mereka yang tertangkap. Ini kampungnya para preman.

Lalu di bali ada Kampung atau desa yang sering disebut desa asal para pengemis. Menjadi pengemis di desa ini sudah bukan sesuatu yang memalukan. Ya... karena semua dari mereka adalah pengemis . Jadi kalau ada penertiban di Kota dan mereka tertangkap lalu dikembalikan ke desa mereka, pasti setelah beberapa hari mereka kembali lagi menjadi pengemis di Kota. Galaknya para Satpol PP atau cemoohan dari warga lainnya, tidak akan menghentikan niat mereka jadi pengemis.

Jika demikian, maka dipastikan Negeri para Maling juga memiliki karakter yang serupa. Para penguasa yang memerintah negeri adalah para maling, bahkan mungkin rajanya Maling. Semuanya adalah maling-maling yang merasa dirinya tetap terhormat karena duduk dilembaga yang terhormat. Hukum yang menjerat para maling, tidak membuat mereka ketakutan apalagi berhenti jadi maling. Meski ada yang sudah ditangkap diadili bahkan di penjara, yang lainnya akan tetap mencari peluang bisa menjadi maling.

Kenyataan yang paling menyayat hati di Negeri para Maling ini adalah para Maling sangatlah dihormati oleh Rakyatnya. Kemana-mana mereka tetap dielu-eluka karena selalu datang membawa segepok uang untuk membantu membangun tempat ibadah, membantu bangun jalan desa atau sekedar memberi uang saku. Wajahnya akan merajai media massa, dimana-mana ada dan selalu muncul dengan tampilan menawan meski mereka juga adalah Maling. Ya... namanya juga negeri Maling, yang dihormati tentu saja Raja-Raja Maling.

Dasar Maling, meski sudah mendeklarasikan organisasinya akan bebas dari tindakan maling, belum beberapa waktu pasca deklarasi, ehh.. malah oknum anggotanya tertangkap karena melakukan tindakan maling. Ini ironi yang menyakitkan hati. Tetapi apakah yang maling hanya penguasa saja?

Namanya juga negeri maling, banyak dari yang dikuasai alias rakyatnya yang menjadi maling atau paling tidak mendorong penguasa untuk jadi maling. Di masa pemilihan umum, rakyat bersepakat untuk tidak memilih mereka yang tidak memberikan sesuatu. Paling tidak para caleg kalau mau dipilih harus sumbang uang bangun jalan atau bangun tempat Ibadah. Untuk memenuhi keinginan ini, para calon penguasa lalu pinjam uang kiri kanan, atau jual aset. Saat sudah berkuasa, agar Break Even Point alias pak pok bahkan kalau bisa untung, mereka lalu jadi Maling.

Ini ADA POTONGAN sebuah puisi tentang negeri Maling yang ditulis Daryanto Bended judulnya KERAJAAN MALING
....
MALING-MALING-MALING
MALING-MALING-MALING
APABILA
PEMERINTAH MALING
MENTERI-MENTERI MALING
DPR MALING
PEJABAT MALING
PEMBESAR PUN IKUT MALING
(lalu apa jadinya negeriku)
NEGERIKU MENJADI KERAJAAN MALING
.......

Lalu apa yang terjadi ketika ada seorang yang bukan maling menyatakan ingin menjadi pemimpin di negeri ini? Ia yang adalah seorang yang tidak mungkin menjadi maling karena tidak ada yang bisa dicuri. Ia hanya seorang seniman. Ada jenderal yang mendukungnya, tetapi sang jenderal juga adalah jenderal miskin. Maka inilah yang terjadi ketika deklarasinya menjadi calon presiden dikumandangkan. Semua menertawakannya... mencemooh. Termasuk media massa pun ramai-ramai menertawakan atau kalau tidak menutup akes pemberitaan. Lalu yang menertawakan akan bertanya sinis "kendaraan politik mu mana?". Yang dimaksud adalah parpol yang selama ini menjadi organisasinya para maling-maling. Ya...namanya saja bukan maling dan belum pernah jadi maling, mana ada organisasi Maling yang mau mendukung calon ini?.

Tetapi ketika yang mencalonkan diri jadi pemimpin negeri adalah para pensiunan jenderal atau pengusaha bergelimang harta, entah harta darimana (mungkin saja dari jerih payah menjadi Maling) media pun mendukung. Apalagi ada milyaran rupiah mengalir ke kantong sang pemilik media. Semua memberi dukungan.

INI MEMANG (BENAR-BENAR) NEGERI PARA MALING.

Komentar

pushandaka mengatakan…
Saya suka tulisan ini. Saking sukanya, saya komentari di sini juga, padahal saya juga sudah tulis komentar di bale bengong.

Saya suka tulisan ini, karena anda berani mengkritik orang, termasuk saya, tapi juga mengkritik diri anda sendiri (rakyat).

Saya sendiri, tersenyum baca tulisan ini karena gaya bahasa yang anda pakai cukup lucu dan menarik.

Ya, kalo sudah begini, saya cuma mau bilang, salam kenal. :)
Terima kasih.
winata mengatakan…
Terima kasih Komen nya
ya... begitulah
Saya melihat Ada yang salah pada diri kita semua di negeri ini.
Ibarat memperbaiki kursi yang rusak, kita mesti tahu persis dulu bagian mana yang rusak.
Kadang kita tidak sadar apa yang salah pada diri kita, akhirnya memperbaiki diri pun tidak bisa dilakukan. Masalah yang dihadapi lalu berlarut-larut tanpa penyelesaian.
Mungkin kita perlu lebih heneng, eling lan waspada.

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!