Dalam kendali Uang dan Jabatan


Belakangan ini, Istri saya agak rewel, terutama saat menonton siaran berita di televisi menyangkut tentang sikap dan isi bicara para politisi. Saya rada-rada panik juga saat harus menjawab sejumlah pertanyaan yang meluncur dari bibirnya. Seperti yang terjadi kemarin sore, "Bli apakah para elite pemimpin politik, meteri, presiden atau kepala daerah ini, benar-benar memikirkan rakyat? Omongannya di TV selalu bilang demi bangsa dan negara, tapi kenyataannya kok seperti ini? Mengapa mereka tidak usah diberi fasilitas saja, sepertinya mereka keenakan dikasi fasilitas sampai-sampai lupa urusan rakyat??" Begitu pertanyaan beruntun yang harus saya terima saat minum teh disore hari sambil menonton berita di TV.

Beruntunnya pertanyaan dari Istri tercinta membuat saya tidak bisa langsung menjawab. Saya mesti terdiam dulu, sambil mengunyah dan menelan kue pukis yang baru saja saja beli di depan pasar dekat rumah kos saya. "Ya.. isi hati manusia siapa yang tahu Gek...", Jawab saya singkat. Dahinya sedikit mengeryit mendengar jawaban saya yang singkat. Mungkin dia berpikir, pertanyaan nya banyak kok jawabanya singkat?. "Menurut saya, saat mereka belum menjabat, memang keinginan nya cukup besar untuk membela rakyat," lanjut saya memberi jawaban sambil memperbaiki posisi duduk saya. Masalahnya adalah ketika sudah menjabat, ada banyak godaan, ada banyak kepentingan yang memaksa mereka untuk melupakan rakyat. Kuncinya adalah pada persoalan mentalitas dan moral para pejabat-pejabat itu sendiri. Tidak banyak pejabat di Indonesia yang memiliki moralitas dan mentalitas yang memadai sebagai seorang pemimpin. Bahkan bisa dikatakan terlalu banyak pejabat yang mudah dibeli terutama dengan uang.

Uang menjadikan manusia itu mudah melupakan nuraninya. Uang membuat telinga manusia tidak lagi mendengar suara hatinya yang paling dalam. Uang menjadikan semua kekuatan, kebersihan dan kesucian pikiran menjadi mudah terkotori. Lalu apakah uang itu pantas untuk dibenci???. Ini persoalan yang juga sulit untuk dijawab, karena untuk hidup manusia harus menggunakan uang membeli kebutuhan hidup. Cuma jumlah uang yang pas dan cukup selalu jadi perdebatan.

Masalahnya adalah uang dan jabatan lebih menjadi pengendali, bukan manusia yang mengendalikan uang dan jabatan. Mungkin inilah masalah pokoknya. Kesejatian manusia di Indonesia telah meluluh terlalu banyak. Manusia Indonesia sudah bukan lagi manusia yang benar-benar manusia. Ia adalah mahluk yang tidak lagi menyadari kemanusiaannya. Ia dikendalikan oleh keinginannya.

Kini giliran istri saya yang nampak semakin bingung dengan penjelasan saya yang panjang lebar. Mungkin karena itu ia memilih diam dan senyum kearah saya. Ah... Istriku... Betapa cinta dan sayangnya aku padamu.....Mmmmmuaaachhhh....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!