Tarif murah Selular, Baik atau buruk?

tarif bertelepon selular sekarang menjadi lebih murah. Ini berkah atau musibah?? Tidak jelas jawaban pastinya dan apapun jawabanya sangat layak menjadi perdebatan. Yang jelas semakin murah tarif telepon, banyak orang yang produktivitasnya menjadi berkurang. Ini terutama terjadi pada mereka yang bekerja sebagai tenaga di sektor informal atau semi formal. Misalnya saja pembantu rumah tangga. Bagaimana tidak, sejak tarif ber telpon seluler demikian rendahnya, banyak orang yang kemudian sibuk bertelepon ria. Tangannya tidak pernah lepas dari telepon genggam, entah apa yang dibicarakan, bertelepon nya bisa berjam-jam.

Yah... ini memang dampak yang sulit dihindari dari kemajuan sebuah teknologi. Bagi siapapun yang hanya ingin mengambil manfaat dari teknologi sebesar-besarnya untuk memenuhi keinginan (want) bukan kebutuhan (need) memang akan menjadi pangsa pasar yang empuk bagi investasi dibidang teknologi. Dan di Indonesia, banyak yang menggunakan teknologi semata-mata untuk memenuhi keiningan nya saja. Jadilah murahnya tarif telepon digunakan untuk bercakap-cakap yang tidak penting. Berpuluh menit bahkan sampai berjam-jam.

Tidak heran kalau pangsa pasar pengembangan investasi telepon selular di Indonesia selalu saja menggiurkan. Apalagi sebenarnya dari segi harga dibanding dengan negara lain, tarif sambungan selular di Indonesia masih tergolong tinggi dan ternyata toh juga tetap laku. Kibuli konsumen dengan iklan menggiurkan bahwa tarif operator tersebut paling murah, maka akan banyak konsumen yang tertarik. Beramai-ramailah operator telepon selular tanamkan modalnya di Indonesia.

Kembali ke soal produktivitas kerja, dengan mentalitas yang lemah, pengguna telepon selular di Indonesia hanya melihat murahnya tarif hanya sebatas manfaat sesaat. Sekali lagi bertelepon yang tidak penting-penting tetap dilakukan. Lalu soal kerja, menjadi yang nomer sekian. Saya kurang bisa memahami, mengapa berbicara ditelepon menjadi hal yang mengasikkan bagi seseorang. Kita tidak bisa melihat orang yang kita ajak bicara dan kita tidak tahu ia sebenarnya sedang melakukan apa saat bertelepon ria dengan kita.

Tapi siapa yang mau mengajak orang untuk bertelepon seperlunya saja. Karena kalaupun ada iklan di media, pastilah iklan mengajak orang untuk menggunakan telepon untuk semua keperluan komunikasi. Semuanya mengaku penyedia tarif paling murah. Akibatnya kita semakin sering melihat orang-orang yang tersenyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri dan berbicara sendiri-sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!