Infotainment = Siapa Butuh???

Para wartawan infotainment dibuat gerah oleh si Luna Maya. Gara-garanya, ada kata-kata kasar yang ditulis artis asal Bali tersebut di internet yang ditujukan kepada para jurnalis infotainment. Bahkan jalur hukum akan ditempuh para wartawan yang merasa benar-benar tersinggung. Uniknya di internet juga ada gerakan yang mendukung Luna Maya. Unik, karena gerakan ini dipeloori oleh jurnalis juga. Mereka beralasan, wartawan sejak dulu ingin menghapus pasal pencemaran nama baik dan sejumlah pasal di UU ITE yang merugikan pengguna internet. Pro kontra pun terjadi dan sampai tulisan ini dibuat belum jelas dimana akan berakhir perseteruan jurnalis infotainment dengan Luna Maya ini.

Bicara tentang infotainment, adalah bicara tentang sesuatu yang sebenarnya sangat tidak penting. Saya tidak pernah menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar "Siapa yang sebenarnya membutuhkan berita-berita tentang selebritis dan apa untungnya mendengar, membaca dan menyaksikan berita-berita tentang selebritis?" Kehidupan pribadi seorang selebritis adalah sesuatu yang sepertinya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan lingkungan masyarakat luas. Misalnya seorang selebritis kawin cerai, berpoligami atau pemakai narkoba. Apakah itu akan merugikan masyarakat luas? jawabannya bisa ya bisa tidak. Tetapi bagi saya tetap saja TIDAK. Yang kita nikmati dari seorang selebritis adalah jasanya dalam memberi kita hiburan. Kita tertarik dengan kemampuannya melakukan selebrasi, ya kita tonton atau dengarkan. kalau tidak suka, ya ditinggalkan saja. Lalu apakah jika dikaitkan dengan posisinya sebagai idola atau publik figur, selebritis menjadi layak diberitakan kehidupan pribadinya? Bagi saya tetap tidak layak. sekali lagi yang kita konsumsi dari mereka adalah jasa menghiburnya, bukan kehidupan pribadinya.

Infotainment adalah berita sampah. Berita yang tidak memiliki kegunaan apa-apa. Kalaupun berguna, ya seperti sampah, pastilah tidak banyak. Infotainment hanya menghasilkan pergunjingan-pergunjingan, gosip-gosip yang tidak produktif bagi kemajuan sebuah bangsa. Infotainment lebih banyak membawa dampak negatif ketimbang positif. Lihatlah berita seseorang yang dilaporkan bunuh diri di sebuah mall di Jakarta. Beberapa hari kemudian prilaku ini ditiru oleh orang lain. Pengetahuan atau manfaat apa yang kita dapatkan dari berita tentang pernikahan Tora Sudiro dengan Mieke Amalia yang dilakukan sembunyi-sembunyi? Atau berita tentang Luna Maya yang menggendong anaknya Ariel di bioskop?

Tidak bisa dipungkiri berita-berita selebritis di infotainment memiliki kekuatan besar di televisi karena banyak ditonton pemirsa. Berderet-deretnya acara infotainment di berbagai stasiun TV nasional menunjukkan bahwa program acara ini dianggap sangat penting untuk ada oleh pengelola televisi. Jumlah infotainment di stasiun TV nasional bisa mencapai puluhan perharinya. Sehari, setiap TV nasional memiliki 3 program infotainment, pagi, siang dan sore. Jika ada 10 Tv nasional, maka akan ada 30 program infotainment per harinya. Satu minggu akan ada 210 program infotainment yang menjejali televisi Indonesia. Nampaknya begitu penting berita-berita soal infotainment itu. Tetapi kalau saya bertanya, "Jika besok Pagi ketika Anda terbangun, lalu tidak ada infotainment di televisi yang anda tonton, apakah hidup Anda akan lebih buruk?". Pikirkanlah dengan jernih jawaban atas pertanyaan tersebut.

Infotainment pada sisi lain juga menghasilkan sesuatu yang semu alias tidak nyata. Sering ketenaran yang tidak layak bagi seorang selebritis diraih secara instant hanya karena sering muncul di infotainment. Sampai sekarang saya tidak pernah mengerti mengapa Julia Perez menjadi tenar, apa prestasinya? Menyanyi tidak pernah bagus, bermain aktingpun tidak pernah mendapat penghargaan. Tetapi coba hitung berapa kali dia bisa muncul di berita infotainment? Sebenarnya analagi infotainment disamakan dengan berita sampah juga menyangkut pada sosok-sosok yang ditampilkan/diberitakan.Mungkin karena tuntutan harus tayang setiap hari, maka ketika tidak ada peristiwa infotainment, yang tidak adapun kemudian diada-adakan.

Mungkin banyaknya berita infotainment merupakan bagian dari fenomena masyrakat Indonesia yang rada-rada "kurang waras". Kebiasaan menggosip/mempergunjingkan tetangga seperti menemukan muara pelampiasan yang tepat ketika menyaksikan infotainment. Dengan demikian, sesungguhnya fenomena maraknya infotainment adalah cermin dari sakitnya masyarakat.

Komentar

N.L. Putu Vidya mengatakan…
saya sangat bisa hidup tanpa infotaiment..sudah saya buktikan..
tulisannya bagus bli....
takjub...

boleh di link kan gak tulisannya ke fb bli ??
winata mengatakan…
thanks dah mampir...
silahkan di link kemana saja..
sukses selalu...

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Kesalahan Terbesar Bangsa Indonesia saat Reformasi