Perampok mulai meniru Taktik Para Koruptor??

Kejadian perampokan yang menimpa keluarga Nurbaiti di Jalan Penaton No.3 Belakang pasar Bulu Semarang Selasa 15 Desember 2009 sungguh memprihatinkan. Tidak hanya korban yang harus kehilangan Rp 200 juta miliknya, tetapi kejadian ini memberikan kita gambaran betapa nekadnya para perampok dan betapa rendahnya kesetiakawanan sosial diantara sesama penduduk. Bagaimana tidak, kejadian berlangsung di tengah keramaian dan keberadaan sejumlah orang dilokasi kejadian tidak memberikan bantuan dengan menangkap sang pelaku melainkan sibuk memunguti uang yang sengaja disebar para perampok.

Saya mencoba membayangkan bagaimana situasi di TKP saat perampokan terjadi. Saat korban dirampok dan berteriak "RAMPOK!!" penduduk yang ada dilokasi tidak bereaksi seperti yang diharapkan korban karena perampok dengan sigap menghamburkan jutaan rupiah uang ke udara. Jadilah kesibukan memunguti uang dan permapok pun berlalu. Jika saya sebagai korban, maka saya akan merasakan dua kali "pukulan telak". Pertama karena saya kehilangan uang dan kedua, ternyata tidak banyak yang diharapkan dari peran masyrakat disekeliling saya untuk membantu.

Sayapun kemudian ingin menggunakan kejadian perampokan ini sebagai analogi, mengapatindakan korupsi dan para pejabat yang korup tidak bisa dilenyapkan dari Indonesia dengan tuntas. Jika saja pada kejadian tersebut pelaku tidak bersenjata golok dan tidak merampok uang ratusan juta rupiah melainkan merampas bawaan korban serupa ayam, kalung kecil, perhiasan yang tidak seberapa harganya, maka saya yakin tidak akan ada ampun bagi si perampok. Masyrakat yang mendengar kata "Rampok" mungkin akan segera berusaha menangkap dan menggebukinya beramai-ramai. Tidak ada barang berharga yang bisa ditebar dan menarik orang untuk memungutinya sehingga membiarkan si permapok melenggang pergi. Beginilah nasib pencuri kecil atau permapok kelas teri.

Saya menyamakan si perampok uang Ibu Nur Baiti di Semarang ini dengan para pelaku korupsi di Indonesia. Mereka menggunakan taktik yang serupa, menutup mata rakyat dengan sejumlah uang hasil korupsi. Warga yang sibuk memunguti uang yang disebar perampok adalah cerminan dari sikap dan prilaku rakyat Indonesia. Yang dibagi koruptor dan permapok tidak seberapa, dibanding uang hasil rampokan dan korupsi, tetapi hasilnya sangat efektif. Rakyat diam tak berkutik bahkan tidak sedikit dari mereka justru bisa membela mati-matian sang koruptor pencuri uang rakyat dan menganggapnya sebagai pahlawan. Kenyataan bahwa korban perampokan uang korupsi para pejabat korup yakni rakyat yang jelas-jelas menanggung sengsara yang panjang, sama sekali tidak membuat mereka penerima "kebaikan" jati pejabat korup terbuka. "Yang penting saya dapat uang, tidak peduli apakah uang itu hasil korupsi atau bukan" begitu kira-kira pendapat mereka. Koruptor kemudian menjadi sosok yang dihormati dan bebas melenggang kemana saja bahkan menjadi pemimpin di sebuah wilayah. Coba kalau penduduk disekitar TKP Perampokan Nur Baiti terbuka mata hatinya dan sadar bahwa uang yang disebar permapok adalah uang haram, maka si perampoklah yang akan di tangkap dan bila perlu digebuki. Kalau dalam kasus korupsi para pejabat korup di Indonesia, jika rakyat masih punya nurani, jelaslah sikap mereka akan menghukum bersama-sama sang koruptor, bukannya malah menghormati apalagi menjadikannya pemimpin.

Negara dan bangsa ini memang bergerak ke belakang. Memandang uang adalah segala-galanya tetapi tidak peduli darimana sesungguhnya uang itu berasal. Hasil Korupsi dan perampokan adalah sama-sama haramnya. Lalu bagaimana rakyat merasa bahwa itu adalah uang halal yang pantas dipergunakan? Bagaimana pula seorang perampok dan koruptor dibiarkan bebas berkeliaran, sementara pelaku kejahatan kecil-kecil kelas maling ayam, maling kakao 3 biji, atau beberapa buah semangka dengan cepat di adili dan dijatuhi hukuman?. Sebegitu parahnya bangsa ini... Tapi siapa lagi yang masih peduli???

Komentar

Itox mengatakan…
Betul sekali.Negara kita memang menuju kebelakang.Adanya korupsi karena sifat rakus sebagian rakyat bangsa kita.Mesti ada komitmen tegas bagi para penegak hukum.

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!