Kesalahan Terbesar Bangsa Indonesia saat Reformasi

“Kesalahan Terbesar Reformasi adalah Tidak di bubarkannya Golkar dan Menjadikannya Partai Terlarang!”

Indonesia belum bisa lepas dari persoalan-persoalan yang menghambatnya menjadi Negara yang rakyatnya sejahtera. Korupsi misalnya masih sangat merajalela dan semakin ganas memakan uang rakyat dan hanya menyisakan kepiluan bagi rakyat miskin. Prilaku elite politik yang tak memiliki rasa malu juga semakin menguat. Bahkan kini sudah terlalu banyak politisi yang bermuka tembok. Darimana semua itu diwariskan? Bagi saya semua kebusukan para elite politik ini dibangun pada masa orde baru, dimana ada kekuatan Golongan Karya (Golkar) ketika itu yang sangat berkuasa. Soeharto adalah tuan yang menjadi pusat dari semua peradaban kebusukan yang akar-akarnya mencerap jauh sangat dalam sampai kebawah sadar manusia-manusia Indonesia. Politisi-politisi yang ada sekarang dan menjadi pemain-pemain utama panggung politik juga adalah manusia-manusia yang di gembleng dan dididik dimana kekuasaan Orde Baru demikian perkasanya.

Gerakan mahasiswa memang berhasil menjatuhkan Soeharto dari tampuk kepemimpinan nasional. Bangsa ini menyebut dirinya telah melakukan reformasi. Saat itu memang terbersit harapan bahwa akan ada perubahan bangsa kearah yang lebih baik, karena sang Master dari Orde Baru, sosok yang paling dianggap bertanggungjawab atas persoalan bangsa telah lengser. Seoharto sudah tak lagi memiliki kekuasaan apa-apa dan jalan menuju bangsa yang bebas dari kebusukan adalah sebuah keniscayaan. Tidak diperlukan lagi upaya besar lainnya agar kebusukan-kebusukan di bangsa ini segera menyingkir.

Golkar sebagai kekuatan politik yang menjadi mesin kekuasaan Soeharto sepertinya diyakini banyak pihak dengan sendirinya akan mati. Kader-kader Golkar sepertinya langsung dipandang sebelah mata dan tidak akan lagi memiliki kekuatan apa-apa karena tuan besarnya telah hengkang dari kekuasaan. Ibarat mahluk hidup, Soeharto bagi bangsa ini ketika itu sama dengan roh atau jiwa dari Golkar. Ketika sang Roh telah pergi, maka Golkar akan tidak bernyawa lagi. Kekuatannya Golkarpun kemudian dianggap tidak terlalu penting untuk di utak-atik.

Sepengetahuan saya, suara-suara untuk membubarkan Golkar pasca lengsernya Soeharto sempat di sampaikan beberapa pihak. Saya dan beberapa teman Aktivitis di Universitas Udayana juga sempat melakukan aksi demonstrasi di depan kantor DPD Partai Golkar Bali di dekat lapangan Puputan Badung menuntut agar Golkar di bubarkan. Golkar bisa menjadi kekuatan laten dari Orde Baru yang suatu saat nanti akan merebut kembali kekuasaan di negeri ini. Sejarah juga telah membuktikan bahwa Bangsa Ini dibawah kekuatan Golkar tidak bisa beranjak dari persoalan seperti Korupsi dan Elite Politik yang sama sekali tidak berpihak pada kepentingan Rakyat. Karena itulah harusnya Golkar tidak hanya dibubarkan tetapi juga layak dijadikan sebagai kekuatan Politik Terlarang.

Mengaca pada sejarah Indonesia di era PKI, maka menjadikan Golkar sebagai kekuatan politik terlarang jauh lebih pantas. Sudah terlalu banyak kejahatan yang dilakukan oleh Golkar di masa orde baru. Ada banyak nyawa rakyat yang melayang karena kepentingan orde baru. Jangan ditanya kerugian yang harus diderita rakyat akibat dari rezim yang otoriter dibawah Soeharto. Dibandingkan dengan Golkar, dalam konteks kejahatannya mungkin PKI belum seberapa. Tetapi kalau kemudian PKI dijadikan Partai terlarang dan ribuan orang harus dibantai, maka Golkar sepatutnya mendapat perlakuan yang juga mirip. Kalau memang tidak di PKI kan, paling tidak bisa dijadikan kekuatan politik terlarang, dimana elite-elite yang menjadi pentolan-pentolannya dijadikan sebagai tapol dan dilarang terlibat dalam urusan politik.

Tetapi suara-suara pembubaran apalagi menjadikan Golkar sebagai kekuatan politik terlarang tidak diperhatikan. Kelihaian para elite Golkar berhasil menyelamatkan Kekuatan Politik ini hingga tetap eksis sampai hari ini. Ini membuktikan kekuatan elite Golkar benar-benar telah mampu menjadikan dirinya sebagai manusia-manusia oportunis yang tak lagi memiliki sikap ksatria. Sikap yang dulu masih dimiliki oleh orang-orang komunis di Indonesia. Ketika dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab atas tragedy pembunuhan para jenderal TNI, elite PKI berani menanggung resiko politik yan harus mereka jalani. Sementara elite Golkar dengan cerdik lihai dan licik mengubah citra mereka sehingga bisa selamat dengan mengelabui rakyat Indonesia mengubah diri menjadi Partai Golkar.

Inilah kesalah terbesar Bangsa Indonesia dengan reformasinya. Membiarkan Golkar tetap Hidup hingga saat ini dengan hanya menambah kata Partai di depannya, terbukti adalah pilihan yang sangat fatal. Kebusukan-kebusukan terus di sebar dan dipupuk oleh Partai Golkar. Korupsi kemudian diwariskan sebagai prilaku yang tidak lagi memalukan. Kekuatan Golkar dari tiga unsure yakni ABRI-Birokrat-Elite Golkar bertransformasi. Masing-masing melepaskan diri dan bergerak secara liar karena sang pengikat yakni Soeharto tidak lagi patut ditakuti. Kekuatan yang bisa tunduk dari hasil reformasi mungkin hanyalah jalur ABRI (sekarang TNI-red). Karena Dwi Fungsi ABRI telah dihapuskan dan tentara dikembalikan ke barak. Namun demikian kekuatan Tentara ini masih terasa di sejumlah pejabat publik mulai dari Kepala Daerah sampai menteri. Bahkan SBY mungkin juga adalah produk dari Orde Baru.

Sementara kontaminasi kebusukan sisa-sisa Golkar di tubuh birokrasi dan elite politik jangan ditanya. Birokrasi masih sangatlah korup dan tidak banyak memikirkan persoalan rakyat. Birokrasi tidak menunjukkan banyak perubahan dari sejak jaman reformasi. Kalau saja Reformasi bisa diikuti dengan menjadikan Golkar sebagai kekuatan terlarang dan birokrasi yang pernah bersentuhan dengan Golkar di jadikan Tahanan Politik (Tapol) dan dilarang menjadi birokrasi lagi, mungkin ada harapan besar bahwa birokrasi akan berubah.

Lain halnya dengan elite Partai Golkar yang belakangan prilakunya semakin tebal muka. Pembentukan Sekretariat Bersama partai-partai koalisi setelah Golkar gencar mengusut Kasus Century membuka mata kita lebar-lebar bagaimana lihainya orang-orang Golkar. Meski dengan sangat telanjang bisa dilihat bahwa sikap Golkar ini menunjukkan bagaimana pragmatis dan oportunisnya Golkar, toh para elitenya tidak sedikitpun punya rasa malu. Di Publik para elite Golkar terus saja berkilah dan membela diri sambail tetap beretorika bahwa ini semua juga demi kebaikan bangsa dan Negara.

Kita tidak akan mengetahui pasti dimana semua tindak tanduk Partai Golkar ini akan berakhir. Adakah benar bahwa yang diperjuangkannya adalah kebaikan bersama seluruh rakyat Indonesia atau hanya kepentingan elite Golkar saja. Sejarahlah yang akan mencatatnya. Tetapi sungguh sangat pantas untuk kita sesalknya bersama, bahwa reformasi di tahun 1998-1999 lalu tidak menjadikan Golkar sebagai kekuatan politik terlarang dan pantas di bubarkan. Setelah Reformasi, Gus Dur melalui "Dekrit" 23 Juli 2001 saat dilengserkan dari kursi presiden memuat point Pembekuan Partai Golkar disamping Pembekuan MPR/DPR. Mungkin saat itu Gus Dur sadar bahwa kekuatan Golkarlah yang memainkan peran besar di MPR/DPR yang membuatnya dilengserkan tanpa alasan dan kesalahan yang jelas. Tetapi Dekrit itu sendiri tidak dianggap oleh bangsa ini. Golkar tetap berkibar menyebarkan virus-virus yang mematikan bangsa ini melalui manuver-manuver politiknya. Saya tidak mengerti lagi siapa yang harus bertanggungjawab atas kesalahan ini. Mungkin bangsa ini seluruhnya yang harus menanggung akibatnya. Kalau sudah begini, saya hanya bisa berkata “Kasihan Bangsa saya ini”.

Komentar

dedy supri mengatakan…
Malah Saya kasihan sm moral bangsa kita ini yg carut marut....lagu2 iwan fals ternyata menjadi kenyataan di era reformasi ini....era soeharto lebih mengedepankan khalayak ramai Dan kalangan menengah kebawah...tp menurut sy jatuhnya rezim soeharto bukan rakyat pd umumnya...mereka hanya ikut2an....pak soeharto dijatuhkan secara ekonomi oleh kaum kapitalis barat melalui propaganda2...sehingga kaum kapitalis lebih mudah menguasai perekonomian Indonesia secara liberal..akibatnya masyarakat bawah sprt petani Dan nelayan tdk dpt perlindungan LG Dr pemerintah....sy boleh Tanya ideologi Indonesia saat ini APA ya....

Postingan populer dari blog ini

Jawa-Bali, Persaudaraan yang tidak Boleh Putus

Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali

Dibalik Gonjang-Ganjing Migrasi Siaran TV Analog ke Digital, Ini Soal Bisnis Bung!!!